Saya akan menuliskan ini dengan bahasa yang sederhana. Jika ada yang tidak mengerti, sebaiknya pergi saja. Itu berarti anda belum layak untuk membacanya.

 

“No tears in the writer, no tears in the reader. No surprise in the writer, no surprise in the reader.”― Robert Frost

Mengapa orang menulis? sampai detik ini saya masih mencari jawaban atas pertanyaan itu. Dulu pikiran sederhana saya mengatakan bahwa orang menulis karena ada hal-hal dalam hidup yang tidak bisa sesederhana terungkap dalam pembicaraan. Orang menulis karena ingin membagi informasi, gagasan, ilham, lelucon, nasehat, pemikiran, keyakinan, tanggapan, perasaan, caci-maki, sampah, dan apapun itu. Atau sekadar ingin menunjukkan keberadaan, ingin mendapatkan pencitraan, atau semata ingin menarik perhatian.

Bagi saya, menulis dengan alasan dan tujuan seperti ini harus dianggap lumrah dan biasa. Lumrah karena manusia memang memiliki hasrat dan keinginan untuk berbagi, diperhatikan, dipandang lebih berharga. Namun juga terlalu biasa, karena umumnya mereka yang menulis dengan alasan dan tujuan seperti ini, hanya menghasilkan sampah informasi, lembaran tanpa emosi, juga pemikiran yang basi.

Seiring waktu, saya kemudian mulai mendapati bahwa sebagian orang menulis dengan alasan yang tidak lagi sesederhana. Tidak sederhana karena bagi sebagian orang, menulis harus diawali dari membaca. Mereka yang terlampau malas dan enggan membaca tidak akan bisa menuliskan pikirannya dengan baik. Dus, logika baliknya, semakin banyak orang membaca, semakin ia kehilangan teman bicara. Dan menulis adalah cara tersisa baginya berkomunikasi dengan dunianya, dengan hidupnya. Dengan kata lain, pengetahuan itu membuat orang terasing. Semakin orang berpikir, mengolah informasi dalam benaknya, merumuskan konsep tentang peristiwa yang dilihatnya, semakin orang tenggelam dalam menara gading nalarnya. Ia merasa memahami dunia yang berbeda dari pemahaman orang biasa. Ia merasa bisa melihat hidup dari perspektif yang tidak terlihat oleh orang pada umumnya. Ia kemudian terjerumus dalam riuh pikirannya sendiri, dan mulai melihat orang lain dengan rasa iba. Lalu, dengan menulis ia akhirnya bisa memuaskan kesendiriannya. Menulis menjadi cara untuk berbicara.

Saya pernah sampai di titik itu. Titik di mana saya merasa bahwa menulis adalah cara saya meludahi dunia. Titik di mana saya sebenarnya butuh teman untuk berbicara, namun dengan ego tertentu yang membuat saya merasa lebih tahu akan segalanya. Meski sebenarnya saya tidak mengerti apa-apa. Hanya tahu sedikit akan banyak hal namun hilang pemahaman utuh dan maknanya. Itu juga yang saya temukan dari banyak lembaran yang sempat saya baca. Mereka yang tahu sedikit tentang sejarah dunia, pernah membaca pemikir model Zizek, Sartre, Heidegger, Ali Syariati, Kant, Hegel, Gidden, dan lainnya, pernah menonton pilem X, mengikuti seminar Z, sering berdiskusi, dan model kegiatan intelek pemula, tapi berlagak seolah tahu segalanya. Menganggap orang lain adalah sampah, adalah salah, yang baik adalah dirinya. Yang benar hanya bacotnya. Merasa paling keren se-alam semesta. Merasa paling bernilai sejagat raya. Fuahhh!! Anjing buduk pun lebih baik dari orang model ini, penulis semacam ini, blogger seperti ini. Terkungkung dalam ilusinya sendiri. Merasa bahagia tapi sebenarnya tidak mengenal diri dan hidupnya. Matanya picak, hatinya picik, otaknya pikun. Oh, yang tersinggung dan tidak terima, ayo kita berkelahi saja!

Hingga akhirnya saya juga mengenal mereka yang menulis sebagai panggilan jiwa. Mereka yang menulis karena menganggap aksara dan pena adalah bagian dari hidupnya. Mereka yang menulis dengan jujur sebagai cara untuk menghayati hidupnya, mengenal dirinya, menyentuh dunia sekitarnya. Mereka yang menulis tanpa terlalu peduli apakah ada yang membacanya. Jikapun terbaca, maka itu hanyalah lembaran tidak lagi berkaitan dengan dirinya. Sebab ia telah selesai, dan akan memulai perjalanan yang baru di lembaran berikutnya. Menulis pada akhirnya adalah sebuah tualang yang memberinya hidup dan makna. Menulis itu adalah dirinya.

“A bird doesn’t sing because it has an answer, it sings because it has a song.” ―Maya Angelou