Sebagai orang tua, kami selalu ingin bersamamu, menyentuhmu, mendekapmu. Atau barangkali tertawa seraya mendongengkan padamu tentang awan dan naga, tentang domba dan serigala, tentang pelangi dan langit tujuh warna. Tapi itu tidak setiap saat bisa kami lakukan. Ada banyak waktu yang harus kami habiskan dalam urusan yang tak bisa kami jelaskan padamu dengan sederhana. Itu mengapa, harapan kami seringkali hanya mampu menjadi doa.

Sebagai orang tua, kami selalu ingin menjagamu, memayungimu, menjauhkanmu dari setiap onak dan hal-hal yang membawa luka. Atau berharap agar kami bisa menanggung seluruh derita dan kemarahan di dirimu ketika kau menangis, murung, atau hilang riang. Sementara kami tak mengerti harus berbuat apa, kecuali memangkumu dan bersenandung sumbang. Tapi barangkali rasa sakit itu bisa saja berharga. Agar dirimu kelak mengerti, hidup tidak senantiasa selurus ingin dan pinta.

Sebagai orang tua, kami selalu ingin seperti Lukman, Imron, atau Ibrahim. Mereka yang sanggup memberikan hikmah pada anak-anak mereka, karena kebaikan yang sudah membungkus diri mereka. Tapi itu tak sanggup kami lakukan. Kami penuh dosa, juga hal-hal yang tak selalu kami sadari sudah membuatmu tidak berada di jalan yang semestinya. Tapi ingatlah, tak ada satu pun orang tua yang ingin anaknya celaka. Karena itu, jika kau tumbuh besar nanti, tanamlah apa yang baik dari kami, dan buanglah yang tak seharusnya.

Sebagai orang tua, kami selalu ingin menatapmu seraya meneguhkan ada kami di dirimu, di tuturmu, di tindakmu. Sebab dirimu adalah kaca untuk wajah kami yang hari ini sudah berkerut oleh waktu dan jalinan hidup yang tak tentu. Dirimu adalah suara yang memanggil kami agar bisa kembali pada hidup sewajarnya, terutama ketika usia ini sudah membawa kami pada banyak kebohongan tutur dan rupa. Karena itu, di hari ini, seperti hari-hari yang sudah ataupun nanti, kami ingin kau tersenyum selalu, menyambut setiap waktu sebagai tualang baru. Dan di sela itu, kami berharap bisa menemukan apa yang hilang dari kami di dirimu.

Dan sebagai orang tua, kami selalu ingin yang terbaik untuk hidupmu. Bahkan jika itu harus membuat kami harus melawan dunia dan seluruh isinya. Tapi apa yang baik untukmu bisa saja tak seiring hasrat kami dalam mengaturmu. Karena itu, kami terus belajar menjadi ibu, menjadi ayah. Orang tua bukan hadir karena ikatan darah, tapi karena teladan dan hikmah. Jika sampai hari ini pun kami belum sempurna untukmu, maka maafkan kami sebagai ayah dan ibumu. Semoga dengan itu, kami bisa menjadi manusia yang lebih baik seiring berjalannya waktu.

Selamat Ulang Tahun Altarra.

Advertisements