Kakashi

Saya? Sebenarnya lebih baik kalian tidak tahu. Bukan penulis, bukan pelukis, bukan sastrawan, apalagi dokter hewan. Saya pekerja serabutan, tanpa majikan, tanpa pelanggan. Suka membaca karya Eichiiro Oda, apapun bentuknya.

*****

Blog ini sebenarnya penanda sewaktu bahwa ada yang mesti dikerjakan untuk mengalahkan jemu. Ia tentu tidak berpretensi menggurui apalgi membuat sakit hati. Cuma di sana-sini memang sedikit terselip rasa benci pada satu masa, yang hanya bisa dilampiaskan melalui blog ini. Bukan siapa-siapa, hanya manusia biasa yang penuh dengan kemungkinan. Tidak untuk dibenci juga tidak perlu dicintai. Hanya ingin berbagi agar hari-hari yang dijalani tak lagi sunyi.

Terimakasih pada “exodus” Maxim, “watermark” Enya, “prosa tanpa tuhan” Homicide, malam dan segenap isinya, sedikit angin dan dingin yang terus menyalami, juga perasaan nanar yang tak pernah berhenti.

______________________________________________

Bila kata adalah mata, maka aku hanya ingin terbenam dalam fata sorotnya.. menunda diri dalam deru waktu, hidup yang semakin semu. Lalu di antara segalanya, aku hanya akan menghela keluh seraya berbisik pada hari.. β€œaku tak ingin hidup lagi..”

Bila kata adalah telinga, maka aku hanya ingin menjahitnya dengan diam. Seperti kebisuan kota Shandora, sejarah tanpa peta, tanpa luka-luka, hanya nama yang tak bernada ketika orang melirihkannya.. lalu dalam puncak heningnya, aku memilih terlelap, melupakan mimpi juga cerah pagi.

Bila kata adalah kepala, maka aku hanya ingin memenggalnya. Melipat logika dan menjualnya di lembah-lembah dusta.. lalu merapatkan diri pada sejuknya neraka, hingga pelik tak lagi menyapa.. lalu sebelum ada yang tersisa di ingat, aku akan merutuki perihal dunia dan terlupa tanpa harus bertanya..

Catatan..

Begini kawan, saya tidak bisa menulis dengan nada riang. Sudah dicoba berkali-kali, tapi tetap saja ujung-ujungnya murung. Nadanya loh, bukan tema tulisannya. Artikel koran, novel, biografi orang, buku daras kuliahan, buku motivasi, diktat, makalah, saya pernah nulis. Topik dan materinya beragam. Bahasanya pun ada yang ilmiah, ada yang popular. Tapi ya itu, sulit untuk keluar dari nada itu. Barangkali karena di antara milyaran manusia itu, saya salah satu orang yang tidak berbakat untuk menulis agar orang tertawa dan menjadi bahagia.

Orang bilang, karakter kita dibentuk oleh lingkungan dan pendidikan yang kita terima. Pemikiran kita dibangun oleh asupan ajaran dan buku-buku yang kita baca. Tapi, buntungnya, saya ini orang yang malas membaca. Dari sekian banyak para penulis yang saya kenal itu, dari Pram hingga Hirata, tidak satupun yang saya tamat bacanya. Eh, kecuali Nobuhiro Watsuki, Eiji Yoshikawa, dan Eichiiro Oda. Juga pengarang Flame of Recca itu, saya lupa namanya. Jadi saya bingung, nada murung itu saya terima dari mana.

Saya ini udah tua, sudah ada uban satu dua di kepala saya. Sudah mengalami sedikit banyak peristiwa. Dari yang ganjil, rumit, memusingkan, menyenangkan, hingga yang menghadirkan bekas luka. Karena itu, saya jelas punya alasan untuk menulis apa saja. Tidak perlu menghujat bahwa saya lebay, alay, sok puitis, narsis, atau apalah istilahnya. Saya tidak mengerti itu semua. Filosofi saya jelas adanya, bahwa huruf itu mampu bernyanyi. Jika saya menulis, maka itu karena saya ingin mendengarkan nadanya sendiri. Tidak peduli apakah benar, apakah salah, gramatologi dan isi. Jika anda kesasar di sini dan ikut baca, maka jangan cuma mengeja aksaranya. Tapi dengarkan juga nada yang dihadirkannya. Jangan berharap ada kebenaran yang dikandungnya. Lalu, bilamana telinga anda sulit menerima nadanya, ya tinggal lupain dan pergi saja.

Advertisements