Tidak seperti yang pernah kuingat, malam ini bintang redup dan hanya bayang mendung yang terlihat. Di seberang sebuah toko dengan lampion yang memendarkan cahaya seribu, aku berdiri dan menunggu. Trotoar separuh terang, tak ada pejalan kaki yang biasa mengukur tapaknya sendiri. Untuk sejenak kuraih ujung tatap yang bisa terlihat dari jalan itu. Tak ada siapapun di sana. Rasanya ingin tersedu, melepaskan diri dari keraguan dan rasa rindu. Namun kerlingku sudah terlanjur tersesat di antara rumput dan batu.

Aku tidak mengerti mengapa saat ini aku kembali ke kota ini. Mencoba mengumpulkan kenangan yang terserak di antara jalan, gedung-gedung kota, dan mimpi masa muda yang mati dini. Seharusnya semua di hadapku ini adalah penanda, bahwa tidak seharusnya aku ke sini. Mencari bayang dan berharap ada yang bisa terbalut dari luka diri. Bimbang ini seharusnya sudah cukup sebagai alasan untuk pergi. Membuang ingatan dan segala hal tentangmu dari sudut hati. Tapi itu tidak jua kulakukan. Aku bahkan tidak peduli apakah dirimu masih di kota ini, ataukah semua ini hanyalah angan yang kuciptakan sendiri. Aku sudah terjerat dalam hasrat yang dalam untuk menatapmu lagi. Dan mengabaikan kemungkinan bahwa harapanku hanyalah ilusi.

Menit-menit berlalu dalam dingin yang semakin sunyi. Sedang aku masih tenggelam dalam diam dan alasan menanti yang tak lagi bisa kupahami. Angin mulai membawa basah. Rembulan di langit redup tampak gelap dan pasrah. Perlahan ingatan mulai menguasai diri. Menembus lintasan waktu yang sempat terkunci. Dahulu di tempat ini, kita terbiasa menghabiskan sepertiga hari dengan segelas kopi dan secarik puisi. Menertawakan dunia yang semakin tua seraya meneguhkan amorfati diri. Atau menghabiskan tatap tanpa harus ada kata yang terucap. Karena kita percaya, hati sudah selalu memiliki bahasanya sendiri. Yang jernih dan mendamaikan. Yang tak bisa dirangkum oleh semata aksara ataupun genggaman tangan. Hingga akhirnya kita dalam isak beranjak. Kalah oleh kelokan hidup yang tak bisa kita tolak. Menyisakan diri yang putus harap dan separuh jiwa yang retak.

Hujan akhirnya turun satu-satu. Tetesnya mengalun, merambat di sela rambut, kemeja, jalan, juga rumput dan batu. Iramanya bagai kidung jauh yang mengetuk kalbu. Perlahan nalarku kembali bergetar, meski ingatan belum sepenuhnya tersadar. Hanya saja, sekilas getar itu sudah cukup membuatku mengerti. Di sini, di tempat ini, tak ada yang bisa kutemukan lagi. Tak kan datang dirimu dengan senyum riang ke pelukku berlari. Barangkali ada yang harus berubah caraku merawat tentangmu. Barangkali perjalananku kali ini bukan semata tentang rindu; tapi juga tentang bagaimana mengakui kekalahan dan kefanaan diri dalam waktu.

Hujan semakin deras, namun rembulan mulai terlihat jelas..

 

Desember, 2015.

Advertisements