Seperti seorang penulis pernah mencatat: akan datang suatu kelak dunia menjadi sunyi, dan apa yang tertinggal hanyalah suara hati, karena itu belajarlah untuk mendengarnya, agar kita mengerti apa yang diucapkannya.*

Musim ini sudah mulai berubah ran.. Hujan sudah turun, tetesnya merambat di sela daun dan ranting. Rumput pun kembali hijau setelah lama kering dan menguning. Segala yang terlelap di kemarau berbulan kini bangun dan bernyanyi; menyambut dingin dan embun pagi, basah dan warna pelangi. Oh, aku lupa, kapan terakhir waktu kau melihat pelangi? Seminggu yang lalu, sepuluh tahun sejak kau pergi itu, atau barangkali sejak kau tak lagi peduli?

Sejatinya aku tak ingin lagi menulis hal-hal yang tidak pernah benar-benar bisa kita bagi. Setiap peristiwa hanya bisa dirasakan dan dimaknai oleh masing-masing diri. Karena itu, menulis dan menceritakan perihal dunia seringkali sia-sia. Sedang kita mengerti, apa yang percuma adalah apa tidak memberikan pertambahan makna untuk hidup kita. Tapi itulah yang terjadi. Ada banyak peristiwa yang itu justru tak berarti apa-apa sejauh kita memang tak menghiraukannya. Seperti halnya perubahan musim dan kehadiran pelangi ini. Semua itu hanya peristiwa biasa, yang muncul begitu saja, meski kita harus menunggunya dengan jeda sekian lama.

Barangkali itu juga yang akhirnya kusadari. Sepuluh tahun di hidupku bukanlah rentang waktu yang singkat. Ia belum cukup untuk membuatku berhenti mengingat. Tentangmu dan segenap hal yang sempat kita catat. Meski masing-masing kita sudah memiliki jalan dan beban sendiri. Yang kita tempuh dalam sunyi tanpa bisa dibagi. Karena itu, ketika musim berubah, teman datang dan berpisah, suara-suara hilang arah, aku akhirnya harus belajar mendengarkan kesunyian ini. Hingga mungkin bisa kudapati nadamu yang pernah tersimpan dalam mimpi. Dan bercengkrama dengannya untuk berpuluh tahun lagi. Sebelum akhirnya musim benar-benar pudar suaranya, dan tak ada hujan atau pelangi yang membisikkan nelangsa.

Apapun itu, aku juga tidak lagi berharap mimpi kita dahulu menjadi nyata, karena waktu yang kulewati sudah mengajarkan bahwa hidup adalah tindakan menerima. Pun bila dalam catatan ini aku terus memanggilmu, itu semata menegaskan bahwa ada yang harus kujaga. Dari ingatan, kenangan, dan bertahun perjalanan yang kuhabiskan dengan memaknai kesunyian. Agar kelak aku bisa lebih jernih mendengarkan: segenap kerinduanmu ran..

Selatan Garut, November 2015

 

__________________
*Tulisan Sarah Dessen dalam Just Listen: “There comes a time when the world gets quiet and the only thing left is your own heart. So you’d better learn the sound of it. Otherwise you’ll never understand what it’s saying.”

Advertisements