dan kuarungi senyummu
di sepanjang senja yang kelu
aroma tatapmu menerjemahkan airmata
di sela-sela do’a yang hangat

Seharusnya kamu mengerti, aku hanya ingin tenggelam dalam indahmu. Melupakan sesaknya luka di teduhmu. Membuang penat wasangka akan dunia di sisimu. Layaknya seorang anak yang berbaring di pangkuan sang ibu. Ia mengerti apa yang dikeluhkannya, yang disembunyikannya, yang tak harus disampaikan oleh sang anak dengan kata-kata. Ia merasakan deritanya, ia memahami apa yang terbaik baginya. Kukatakan padamu kekasihku, tiada keinginan lain dalam hidup kecuali diri ini bisa menemanimu. Menanggung segenap takdir buruk yang mungkin mendatangimu. Menuliskan risalah doa kepada tuhan tanpa rasa jemu. Berharap bahagia selalu menaungi hidupmu. Menghangatkan malam-malammu dengan senandung tentang kerinduan yang tak lekang oleh waktu.

aku hanya menemukan satu jatah langkah
dalam seribu langkah menemuimu
itupun hanya ikhlasku menatapmu
namun, di antara kertas, pena dan hatiku
dirimu utuh di sini

Sebab hati kita berpaut. Tegap langkah meski jalan berkabut. Aku tidak mau mengenal banyak arah, sebab tempuhanku sudah kuniatkan hanya ke dirimu. Meski itu berarti aku harus melepaskan kemungkinan lain akan hidupku. Kamulah yang menjadi pelita ketika kegelapan menyelimutiku. Kamulah makna yang kudapatkan, ketika nalar dan jiwaku kehilangan aksara untuk mengeja kehidupan. Meski pada akhirnya semua itu hanya membuatku terjebak dalam jerat kenangan. Tapi itu pilihanku; bahwa ikhlas hati ini hilang kewarasan asal dirimu utuh dalam ingatan.

dan kuarungi senyummu
di sepanjang keheningan puisi
yang tergagu menahan rindu*

Aku tidak mengerti, bagaimana kata-kata bisa mengalir dari diri, jendela, langit-langit kamar, seteguk kopi dan rasa lapar, lembayung senja dan lampion-lampion yang berpendar, atau apa pun itu, lalu menjadi puisi. Aku hanya meyakini bahwa puisi terindah dalam hidupku adalah waktu-waktu yang bisa kuhabiskan bersamamu. Waktu hati bergetar mengucap nama mengingat bayang, memahat rindu menjaga kenang. Lebur diri dalam sunyi, berharap jiwa tenang di ujung hari, dengan senyummu yang kuarungi.. dengan senyummu yang kuarungi.

 

*Bait-bait puisi Sabda Ali Mifka, dengan judul: “dan Kuarungi Senyummu”. Selamat atas terbitnya buku antologi puisi “Masih Ada Puisi” untuk Sabda Ali Mifka dkk.

Advertisements