Menuliskan peristiwa, adalah berkata jujur ada debu di kaca jendela. Ada puntung rokok di bawah meja. Ada namanya yang kau baca di balik mega. Ada malam yang hilang di sepanjang usia. Ada rindu yang tak selesai dengan bahasa. Ada cemas yang tak terbuang lewat airmata. Itulah peristiwa. Itulah kelindan kejadian dalam hidup yang mengitari kita.

Barangkali seharusnya ia sederhana. Menuliskannya berarti memasukkan rasa dan ingatan yang yang tertinggal pada aksara. Merangkainya menjadi kata, klausa, dan kalimat yang utuh, meski ia bisa saja mengundang perbedaan makna. Bahwa debu di kaca jendela, rindu yang tak terucapkan dan menohok dada, rasa cemas yang menyeruak di jiwa, semuanya bisa terbaca dan benar adanya. Bahwa aksara yang bercerita dalam tulisan menjadi cermin atas peristiwa. Ia tidak menipu diri. Ia tidak menutupi apa yang terjadi.

Hanya saja, apa yang kuinginkan dari tulisan adalah nada. Adalah lirih yang bergema dengan rima. Adalah rasa yang tak terselami dasarnya. Adalah pikiran yang hilang oleh kata. Adalah aku, kamu, dan kisah kita. Dan ia dalam tulisan tak pernah bisa dirumuskan secara sederhana.

(fragmen dari tulisan yang tak kunjung selesai; Musikalitas Aksara)

Advertisements