Lalu pada malam-malam seperti ini; letih itu terasa.. aku sudah terlampau jauh berjalan; tapi untuk berhenti pada satu hati, aku tak pernah memiliki keberanian..

Barangkali suatu kelak aku kan menikah; memutuskan bahwa seseorang adalah pendamping di kesunyian jalan dan rumah. Memelihara terusan hidup dan darah, menjaga cita-cita agar tak sedini umurku kan patah. Namun, kukatakan padamu Diandra; ia kulakukan bukan atas nama cinta. Bukan karena ingin semata bahagia. Tapi karena dengannya aku bisa menyelesaikan perihal untuk kemudian mengetuk pintu selanjutnya. Meski bisa saja pada satu malam bertahun kelak aku kan terjaga, dan tiba-tiba terasa sakit dalam dada. Sakit yang tak terduga, yang datang dari hamparan cerita dan nama. Bahwa putusanku itu salah adanya; namun disesali pun tiada guna.

Barangkali suatu kelak aku kan menikah; menguatkan ikatan dengan cincin, buku, dan sajadah. Bertutur tentang kesetiaan sebatas kata, seraya berharap telah kujalankan aturan dan sunnah. Namun, kukatakan padamu Diandra; ia kulakukan bukan atas nama cinta. Jalan ini tidak pernah menuntunku pada hati seseorang, tapi pada pengabdian atas hidup dan kemanusiaan; yang bisa saja terbaca kesunyian. Aku tidak berjodoh dengan cinta, aku hanya bisa berharap mendapatkan makna dari yang lainnya. Dan inilah harga yang harus kubayar atas semuanya. Alam sudah memberikan begitu banyak stasi dan penanda, namun aku terlampau takut untuk membacanya. Hidup sudah memberiku berbagai kesempatan, rupa dan nama, namun aku tak kunjung berani membuat putusan berhenti seraya memanggilnya. Hingga akhirnya, untuk sekali lagi, aku hanya harus kehilangan dirinya.

Timur Bandung, 2014

Advertisements