Pagi di manglayang, pada teras sebuah villa. Di depan tampak hamparan kota. Rimbun pertokoan, jalan dan bangunan. Kota yang padat, dengan kemanusiaan yang tersumbat. Dari puncak ini, tak ada tempat di hamparan itu untuk kekosongan. Tak ada halaman bahkan bagi semata pikiran. Segalanya seolah berebut pijak dan kepemilikan. Udara  sesak dengan polusi yang tak berhenti. Elang pun hilang ruang di awan tinggi. Jangan ditanya tentang suara; takkan ada pekik dan raung yang jelas nadanya. Di kota ini, keheningan adalah barang langka.

Gilding rasanya benar; manusia itu brilian dan pintar. Ia dianugerahi kreativitas tak berpagar. Apa lagi yang kita cari, ketika segenap hal yang bisa direkam khayal dan mimpi sudah ditemui; juga bisa dibeli. Tapi manusia telah menciptakan terlalu banyak. Hingga bumi ini, hidup ini, terlampau sesak. Itu membuat diri ini sering hilang jejak. Bagaimana bisa ber-ada di dunia ketika saya, anda, bom mobil di afrika, masinis di lokomotif kereta, atau es yang mencair di alaska, semuanya sudah tak ada jaraknya? Bagaimana memberi makna pada hidup yang melaju tak tentu arahnya dan segenap perihal yang singgah hanya sekedip mata?

It is full of us, it’s full of our stuff, full of our waste, full of our demands. Yes, we are a brilliant and creative species, but we’ve created too much stuff — so much that our economy is now bigger than its host, our planet. –Paul Gilding

Pagi di manglayang, pada teras sebuah villa. Kabut ketinggian belum hilang dari udara. Sedang gerimis dari mendung timur mulai tiba. Dalam dingin yang merambat pada kulit; entah kenapa saya merasa ruang ini semakin sempit. Meski pikiran masih saja ingin terbang, menjelajahi tujuh langit. Apa yang harus dilakukan, saya tidak lagi mengerti. Barangkali saya hanya harus di sini. Tidak beranjak hingga bisa mereguk rintik terakhir dari hujan ini. Dan melupakan sesaknya kota ini.

Pasir Angin
28/12/2013

Advertisements