“The worst part of holding the memories is not the pain. It’s the loneliness of it. Memories need to be shared.” –Lois Lowry

Banyak hari terlewatkan sudah, peristiwa hadir lalu menjadi kisah. Setiap kita barangkali disibukkan dengan hidupnya sendiri; yang mensyukuri anugerah dan menangisi tragedi, yang memilih diam ataupun pelan-pelan beringsut pergi. Tanpa sempat kita bertanya saling, membuka sapa berbagi kerling, atau semata mengingat bayang dengan teriak hening. Sedang kau jelas mengerti, ingatan tak pernah mudah tersimpan. Seperti daun di halaman, satu-satu ia berguguran dalam sunyi, membawa pergi riwayat yang tak akan pernah kembali.

Apa kabarmu kawan?

Barangkali beberapa perihal dalam ingatan terasa sama. Meski banyak juga yang tak mudah kita anggap biasa; yang menyakitkan dan sulit terlupakan seperti cinta lama. Tapi itu yang mungkin membuat kita bertahan. Luka yang menghadirkan nyeri dan tak bisa kita bagi. Yang hanya bisa kita tulis dalam sunyi. Karena itu, jika di lembaran ini tak ada yang dapat kau baca lagi, maka itu adalah petanda bayangnya dari ingatku sudah pergi.

Kukatakan, tidak semua orang dapat menanggung ingatan. Tragedi hanya sekali datang sebelum ia oleh waktu tertelan. Namun, ingatan bisa berulangkali hadir dan menjadi beban. Karena itu, aku merasa perlu mengunjungimu, bertanya tentang adamu. Agar kau mengerti, bahwa kau tak sendiri. Bahwa di tengah keterasingan kita ini, ada seseorang yang sudi merapatkan bahu, menjadi tangan yang menahan goyahmu, menjadi dekap yang mendamaikan risaumu. Sebelum akhirnya, seperti daun di halaman itu, kita ikhlaskan ia gugur satu-satu. Tanpa sesal, tanpa gerutu.

– – – – –

Karena seseorang bisa saja hadir dalam riwayat ini, namun ia tidak pernah menjadi bagian dari takdir diri. Dan tidak pernah memiliki ingatan ini.

Manisi, 12/2013

Advertisements