Mungkin seperti yang kau ceritakan. Setiap kita layaknya sebuah kapal. Yang berlayar sendiri-sendiri. Dalam sunyi. Dalam cuaca yang tak mengenal nyeri. Dalam keraguan yang terbawa pergi. Namun, kita dipaksa bertahan dan terjaga. Sehingga gelombang tak sempat melihat paras kita dengan iba. Lalu dengan doa yang tak terucap kau dan aku berharap bisa melaluinya. Begitulah hidup. Ada dan niscaya, rumit dan sederhana. Sedang kita hanya harus berlayar di antaranya. Tapi kapal bisa pecah. Tiang layar bisa patah. Oleh amuk ombak dan karang yang gagah. Kemudian air masuk dari galangan dan buritan. Kau terhempas cepat atau perlahan. Kau pun berteriak, berlari, jatuh, dan mengaduh. Sedang ketakutan enggan menjauh. Orang-orang yang kau kenal ataupun sekadar lewat semua tampak pucat. Kau tidak bisa bersandar, tidak bisa berbagi tangis dan kelakar. Lalu setiap badai harus kau artikan perjuangan melawan kesepian hidup dan kebersamaan yang redup. Karena itu kepalanmu harus kokoh. Lutut di hadap apapun janganlah roboh. Sebelum akhirnya laut kembali tenang. Terjal karang dan amuk ombak pun menghilang. Dan kau temukan lagi wajah yang riang. Apapun yang pecah dari kapal saatnya kau tambal. Tak ada waktu untuk duduk berlama-lama. Menikmati gugur surya di ujung tatap pada luasnya samudera. Secepatnya kau harus mendapati daratan. Mengumpulkan air, kayu, dan segala hal yang niscaya dalam perjalanan. Dan tualang baru pun kembali datang.

Atau mungkin tidak seperti yang kau ceritakan; hidup hanyalah ilusi. Kita terpejam, Tuhan memberi mimpi, dan segenap persoalan terbawa pergi.

*stress*

Advertisements