No my friend, darkness is not everywhere, for here and there I find faces illuminated from within; paper lanterns among the dark trees. ―Carole Borges

Kukatakan; semuanya bermula dari sini. Dari ketika yang tak pernah bisa kupahami. Namun kuingat setiap pecahan peristiwanya dengan rinci. Senja yang teduh, bayang surya yang perlahan menjauh, dan pijar lampion kota dengan terang yang keruh. Aku berdiri di depan taman kecil yang tak berbunga. Hanya ada dedaun kering dan bangku tak terjaga. Sedang orang-orang dan berbagai suara melintas di hadapanku begitu saja. Tapi ia tidak mengusikku. Sebab ruangku, waktuku, dan segenap jiwaku seolah tenggelam dalam ingatan tentangmu yang sulit kuartikan. Kecuali lampion yang kutatap sambil di ujung jalan, barangkali hanya ada dirimu memenuhi pikiran.

Aku tidak mengerti mengapa lampion itu begitu indah di sudut mata. Bahkan jingga cakrawala olehnya harus hilang keindahan rupa. Mungkin karena ia memberi jalan pada cahaya. Atau karena diriku di sunyi senja ini terhanyut suasana. Entahlah, aku tidak mengerti. Aku hanya sudah menemukan pikiran yang membayangkan dirimu adalah lampion itu. Dengan cahaya berjuta warna, juga kerlip kecil yang memendarkan rindu dan bunga prasangka. Saat itu, ran.. rasanya ingin sekali saja dalam takdir menjadi kertas yang membungkus diannya. Atau menjadi ikat yang menopang adanya. Meski itu berarti menghabiskan nasib dalam perihal yang membuatku hilang makna.

Kukatakan padamu, raniaku.. Aku ingin menjadi apapun yang bisa menjaga dan melengkapi hidupmu. Menjadi garis yang meluruskan arah tempuhanmu. Menjadi iman yang membalut keraguanmu. Atau sekadar menjadi senja ini agar lampion itu mampu memukau setiap hati. Sebab kupikir dengan itu apa yang hilang dari hidupku bisa kembali. Dan aku tak perlu menekuni sunyi yang itu-itu lagi. Hanya saja, pada jarak yang terbentang antara diri dan lampion yang kupandang lekat, ada hidup yang tidak mengijinkan imajiku terus merambat. Itu mengapa, meski indahmu begitu menawan, aku tidak bisa menghabiskan hari dalam semata angan.

Lalu akhirnya kukatakan, di senja itu aku masih sendiri. Tak ada dirimu atau indahmu yang senyatanya menemani, kecuali sedikit ingatan dan rindu yang terlanjur kubenamkan dalam tatapan sunyi; pada lampion yang terlepas ikat dan melayang tinggi, pada senja dan kehidupan kota yang sibuk mencari arti, pada dirimu dan hal-hal yang tak akan kutemui nuansanya kedua kali. Dan mungkin suatu hari kan kusesali..

Desember, 2012

Advertisements