Suddenly this defeat.
This rain.
The blues gone gray
And the browns gone gray
And yellow
A terrible amber.
In the cold streets
Your warm body.
In whatever room
Your warm body.
Among all the people
Your absence
The people who are always
Not you.

I have been easy with trees
Too long.
Too familiar with mountains.
Joy has been a habit.
Now
Suddenly
This rain.
–Jack Gilbert

Rasanya barangkali seperti itu. Ketika tiba-tiba hujan turun membasahi jendela. Menyiram bumi dan orang-orang yang berjalan di atasnya. Membawa dingin dan teduh dari arah yang tak bisa diduga. Menerangi ingatan tentang pohon, bukit, lembah dan matahari. Tentang rimbun yang menaungi dari terik siang hari. Tentang air yang mengalir dari hulu lembah menuju muara sepi. Tentang segala hal yang karena biasa lalu terlupakan oleh diri.

Rasanya barangkali seperti itu. Ketika tiba-tiba hujan ini, basah ini, dingin ini, semuanya hadir di sini. Lalu apa yang riuh, apa yang dekat, perlahan terasa menjauh. Dan datang perasaan yang hening. Bahwa diri hanyalah kumpulan ingatan tentang masa lalu. Yang tak terulang namun setia memukul waktu. Yang datang begitu saja, dan membawa pengalaman deja vu. Sedang hujan belum berhenti, meski basah sudah membasuh separuh kaki.

Rasanya berangkali seperti itu. Ketika tiba-tiba setiap rintik menjelma nyanyian sunyi. Yang menyentuh perasaan asing dalam diri. Bahwa mungkin saja di luar sana tak ada apapun selain kesendirian ini. Tak ada apapun kecuali rasa kalah yang begitu melukai. Tak ada apapun selain hujan ini.

Rasanya barangkali seperti itu..

Advertisements