Ia masih terjerat oleh kelindan kata yang berlarian dalam benak. Seperti mengais jejak, mengitari seribu ruang dengan luka di telapak. Lalu, di antara perihal yang begitu banyak, ia tersadar; kata-kata tidak bisa mengutuhkan apa yang telah retak. Ia mengerti bahwa apa yang berbahaya dari kehilangan adalah kekalahan diri oleh buruknya kehendak. Dan pada hening tanpa gerak, ia pun perlahan tenggelam dalam isak.

Pagi sudah tiba, di antara daun, jendela, dan halaman yang mulai satu-satu disapa cahaya. Malam pun utuh berlalu dalam suara kenangan yang masih terngiang di kepala. Sedang layar masih redup menyala, orang-orang pun kembali terpekur dalam sibuknya. Dunia masih itu-itu saja, meski pikiran tak pernah bisa melihatnya dengan sederhana. Namun ia merasa untuk beranjak, belum jua tepat saatnya. Mungkin karena kesunyian mengatasi ruang dan masa. Mungkin karena ia terlalu lama terpaku luka, hingga sulit untuk percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Oleh banyak perihal yang tak cukup dengan sangka, ia hanya bisa bertengkar dengan kata-kata dan berharap menjadi doa. Menjadi titik rindu yang menuntaskan kalimat cinta. Tapi itu hanya harapannya, sedang kenyataan selalu berbicara dalam bahasa yang berbeda rupa dan makna.

Tiba-tiba ia merasa begitu lelah. Semula dengan renung semalam ia ingin berbenah, namun sampai pagi datang tak jua ia lepas gelisah. Pikiran dalam jelajah telah membawanya pada kesimpulan bahwa hidup begitu lumrah. Hanya saja tidak semuanya bisa diterima dengan pasrah. Ia ingin menyerah, tapi terlanjur jauh kaki melangkah. Terlalu banyak yang harus sia-sia jika ia berkata sudah. Sedang pagi tanpa peduli terus naik, menuju siang dan usia yang bertambah. Menuju bising kota yang menjajakan resah. Pun ketika ia merasa dari waktunya tak ada yang berubah. Meski benaknya dari ruang semakin terpecah.

Ia masih terjerat oleh kelindan kata yang perlahan hilang eja. Seperti menggenggam nada, jelas terdengar namun tak pasti wujudnya. Lalu, di antara singkap bayang dan peristiwa, ia mengerti; kata-kata adalah batas nama. Sedang rindunya bergetar sepanjang usia. Dan pada sunyi yang bertukar-tinggal dengan airmata, ia pun terpejam dalam doa. Usailah retak jiwa, susutlah rasa percuma, dan kembalilah hidup yang sewajarnya.

Manisi, April 2013

Advertisements