Karena dalam sedih nama-Mu kusebut, meski tidak lantas dengannya luka kan terbalut.

Aku berdiri, meluruskan tatap pada kiblat walau diri-Mu mengatasi semua tempat. Perlahan, beserta takbir yang terucap kuhaturkan segenap niat. Kubaca lalu puja-puji dalam hantaran doa yang bergetar dari ingat. Engkau yang segala Maha, Engkau sang pemilik semesta, Engkau sang pengampun untuk segala dosa. Dalam hening dan riuh, kutahu Engkaulah yang menjernihkan keruh. Tuhan, inilah hamba-Mu. Menghadapkan iman yang terus bertolak-sangka dengan ragu. Menjujurkan segala doa tanpa rasa malu. Berharap Engkau, dengan penuh kasih, rela membuka pintu.

Aku menundukkan setengah badan, walau pikiran dari etika sembah mulai teralihkan. Kembali kulafalkan agung-Mu, meski tak sanggup kuingat Engkau di setiap waktuku. Ampuni aku, yang tak sanggup mengurai bayang dan mengembalikan khusyu’. Ampuni aku yang tak pernah paham bagaimana mengusir dari benak syak serta waham. Ampuni aku yang tergesa menunaikan gerak, seolah tugas dan kewajibanku begitu banyak. Inilah hamba-Mu yang meminta cita tercapai, namun mengucap nama-Mu saja selalu lalai. Inilah hamba-Mu penuh harap meminta ampunan, namun dalam ruku’ tak pernah mampu menundukkan perhatian.

Aku bersujud, merendahkan kepala setara dengan telapak. Memejamkan pelupuk seraya mengosongkan hati dari segenap kehendak. Membenamkan keangkuhan dan ego yang membuat hari terasa sesak. Bahwa semestinya di hadap-Mu seluruh persoalan hilang jejak. Bahwa oleh dzikir yang berdesir dari bibir semestinya beban hidup lepas nyinyir. Tapi, ternyata tidak demikian dengan kenyataannya. Meluruhkan sembah tidak berarti jaminan untuk diri lenyap resah. Maka dengan sujud seharusnya aku belajar diri sejatinya tidak berpunya, kecuali yang Engkau titipkan untuk sementara. Dengan sujud aku sadar tak berhak diri ini meminta. Karena itu, ampuni aku jika lidahku terbata melirihkan aksara doa. Ampuni aku yang hanya mengerti bahwa di dalam sujud ini aku merasa tak bermakna. Inilah hamba-Mu yang rapuh namun berjalan di bumimu penuh angkuh. Inilah hamba-Mu yang tahu Engkaulah yang mestinya setiap waktu kudekati, namun oleh banyak hal aku datang hanya saat pecah arti.

Aku pun duduk, merapatkan kaki seraya menajamkan telunjuk. Berharap untuk segala perihal selalu ada petunjuk. Berharap segenap amuk hidup tidak membuat imanku hilang bentuk. Karena itu kumohonkan kasih untuk diri sebagaimana telah Engkau berikan pada Muhammad, Ibrahim, dan orang-orang dari kami yang berbuat kebajikan. Agar diri ini menemukan pelajaran. Agar doa ini utuh tersampaikan. Sebelum akhirnya kututup dengan salam dari hati. Dan bertambah kerinduan untuk menemui-Mu lagi. Inilah hamba-Mu dengan dosa tak berhingga, namun setia meminta-minta. Inilah hamba-Mu yang lebih bisa menemui-Mu lewat aksara dibanding shalat sebagai muara doa.

Karena dalam shalat nama-Mu kupuja, meski tidak lantas dengannya hidupku bahagia.

Advertisements