When you are old and grey and full of sleep,
And nodding by the fire, take down this book,
And slowly read, and dream of the soft look
Your eyes had once, and of their shadows deep;

How many loved your moments of glad grace,
And loved your beauty with love false or true,
But one man loved the pilgrim soul in you,
And loved the sorrows of your changing face;

And bending down beside the glowing bars,
Murmur, a little sadly, how Love fled
And paced upon the mountains overhead
And hid his face amid a crowd of stars.”
― W.B. Yeats

 

Malam perlahan larut dalam diam. Aku masih tercenung di antara riuh diri dan heningnya alam. Dalam pikiranku hanya ada gumpalan gumam. Tentang hidup dan ingatan, tentang hal-hal yang tak selesai dan terlupakan. Hingga aku tersadar bahwa tidak ada lagi yang kumiliki selain jejak usia. Tidak ada yang kita miliki selain waktu hidup baik singkat ataupun lama. Itu membawaku pada pikiran bahwa usialah yang melahap segalanya. Usialah yang menjadi penanda santun tentang berbagai peristiwa, yang dialami, dilihat, atau sekadar dibaca. Usialah yang selama ini menjadi jawaban untuk hal-hal yang tak cukup dibenahi oleh pikiran. Usia pula yang menjadi persoalan, terutama ketika semakin bertambah ia dalam hitungan, namun semakin kurang pula kedewasaan. Karena itu, aku ingin sekali saja berkata, usia bukanlah segalanya, meski menjadi tua jelas membuat kita lebih berharga.

Aku, kamu, dan setiap orang sudah selalu berada dalam jejaknya yang bergegas tanpa terasa. Tiba-tiba kita tersadar oleh bisikan kecil bahwa kita tak lagi muda. Tak lagi bisa berbuat seenaknya. Tiba-tiba pikiran semakin dipenuhi oleh banyak timbangan dan norma. Itu mengapa kita harus bisa meyakini, semakin lanjut usia ini, semakin terbatas hidup ini. Karena itu pula, di lembaran ini aku hanya ingin menyampaikan perihal yang bisa saja tak kau terima. Aku harus meminta maaf, kekasihku.. sebab usia ini telah membawaku pada kesimpulan bahwa tidak setiap orang bisa dijadikan kawan bicara. Di usia ini, aku sampai pada pikiran yang membuatku harus bisa berhitung dosa. Aku sampai pada keputusan yang membuatku harus memilih hal-hal yang lebih bermakna. Aku sampai pada usia yang membuat nalarku, ingatanku, segala hal yang teralami di hidupku, segala rindu yang kurawat di waktuku, hanya harus kutitipkan pada aksara. Dan berharap ada takdir lain yang menjaganya.

Namun, jika akhirnya tidak ada lagi yang bisa kau baca, tidak ada lagi yang kau temui dari sikap dan tuturku, perihal yang menandakan cinta, maka itu karena usiaku. Karena tak lagi bisa kuhabiskan waktuku dengan mengingatmu. Tak lagi bisa kubiarkan langkahku hanya tertuju padamu dan memuaskan amuk rinduku. Tak lagi bisa usia ini mengendap dalam semata perihal hati. Tak lagi bisa usia ini berhenti di dirimu dan luruh menunggu mati.

Maaf kekasihku, usia ini sudah membunuhku..

Advertisements