Selalu ada pertanyaan dalam benak, ketika di paruh waktuku namamu teringat. Apa kabarmu Diandra? Bagaimana hari-harimu? Tentu inginku tak kau temui persoalan yang berat di hidupmu. Meski kita sesekali memerlukannya. Agar pelajaran yang diberikan usia tak percuma. Agar lengkap kemanusiaan kita. Dan seiring waktu kita bertambah paham tentang hidup dan maknanya. Sebelum akhirnya kita kembali kepada apa yang kita yakini. Dan tunai sudah perjalanan ini.

Sebentar lagi kabut magrib tiba. Seperti biasa aku hanya setia memandangnya dari tepi jendela. Aku tak mengerti sejak kapan ini bermula. Aku hanya sudah terlanjur menemukan bahwa senja dan segenap nuansanya adalah ruang untukku mengingat nama. Melantunkan sapa yang tak terjawab, dan hanya sanggup kubayangkan ia kan terekam di udara. Yang mengalir, mengetuk pintu dua musim, dan tersesat entah di hati yang mana. Atau menjelma tulisan di awan, yang turun bersama hujan, dan sampai di hadapmu dengan aksara yang berwujud ingatan. Ah, aku tidak mengerti. Barangkali anganku yang terlalu tinggi. Aku hanya tahu bahwa dalam rindu ini tak ada ilusi. Tak ada ruang untuk pikiran bahwa kamu sudah tak ada di sini. Itu mengapa aku yakin bahwa setiap senja sudah diciptakan untuk kita. Dan aku hanya harus dengan riang menunggunya. Tanpa prasangka duka, tanpa pikiran luka.

Kupikir, setiap kita adalah satu jiwa yang terpisahkan dari pasangannya saat dilahirkan. Dan hidup adalah tindakan menemukan. Karena itu, aku percaya bahwa cinta akan selalu mendapati jalan. Pun jika pada akhirnya oleh ruang kita dipisahkan. Bersama atau tidak bukanlah persoalan. Aku sudah belajar untuk merasa cukup dengan hati yang saling terikat dalam diam. Aku sudah belajar untuk percaya bahwa bahagia itu sederhana. Menatap mega senja, menuliskan beberapa butir aksara, seraya membayangkan dirimu baik-baik saja.

Jika akhirnya hanya kau baca cerita yang sama di lembaranku, itu karena hanya ada dirimu di pikiranku. Hanya ada ingatan tentangmu ketika kupandang layar di hadapku. Hanya ada kamu ketika senja tiba, ketika hujan menyapa, ketika aku terbaring, terdiam, dan tersedu menahan luruhnya air mata. Karena itu pula selalu ada doa yang terucapkan, ketika rindu ini meronta dalam pikiran. Dan harus dituliskan. Semoga kau damai di sana, dijaga dari rumitnya beban usia, dan dijauhkan dari hal-hal yang membuat kita tak lagi bahagia.

Advertisements