Dari mana angin yang menyelusup itu berasal? Terkadang itu yang kutanyakan, ketika di jendela itu aku tercenung menata pikiran. Orang bilang, pikiran seperti dahan, bercabang lalu membusuk perlahan. Selalu ada yang tak sempat tuntas dari persoalan. Meski beribu detik sempat memberikan wadah bagi pertanyaan. Itu mengapa aku menyukai jendela. Juga angin yang dalam dingin terus menyapa.

Jendela, barangkali hanya lobang kecil untuk melihat dunia dengan lebih sederhana. Sebelum pintu terbuka, dan segenap berita merasuki hari. Lalu diri menjadi rumit dan dalam riuh hilang arti. Maka, jika akhirnya aku berada di sini, itu karena aku ingin memberi jarak pada segalanya. Pada pikiran yang menelan ruang, pada ingatan yang tertutup bayang, pada keyakinan yang semakin bimbang. Juga dirimu yang lama hilang.

Hanya saja, jendela di jelang malam selalu terkunci. Itu membuat kelam di ujung jalan sirna arti. Hanya desir angin yang menyelusup dan terasa. Dari itu, di tepi jendela selalu ingin kukatakan; aku akan menjadi angin. Menjadi udara yang beranjak tanpa henti sepanjang usia. Menjelma  hawa yang merayapi lembaran aksara yang tak pernah kubaca. Melihat semesta peristiwa dengan senyum yang kuhembuskan di selanya. Atau barangkali menyelusup di tepi telingamu dan berbisik; aku ada. Ah, tapi itu hanya ilusiku, mimpiku Diandra. Seperti gumpalan rindu yang kutanam dalam-dalam di tidurku. Dan berulang kali membuatku terjaga.

Hingga akhirnya, di jendela ini aku kembali termangu. Menatap kosong pada batu, jalan, sampah, daun, mega, dan orang-orang yang sedang bercengkrama. Sedang dunia masih itu-itu saja. Sepertinya, aku hanya harus mengangkat gelas itu lagi. Merayakan luka yang tak terobati. Dan berharap ada hari aku bisa mendapati alasan untuk berjalan keluar, dan meninggalkan jendela ini.

Advertisements