Untuk sekali ini saja, aku harus menyapamu kembali. Melupakan batas kenangan yang sempat kukunci. Mengabaikan sakitnya luka jika kutatap parasmu lagi. Tapi ia harus kulakukan. Agar usai semua ingatan, dan tegap langkahku ke depan. Karena itu, dengan atau tanpa ijinmu, kuhaturkan lembaran ini, dan berharap ada ingatan yang membawamu. Ke waktu dan ruang kita masih berbagi senyum dan linang, kicau dan dendang, senja dan bayang. Sebelum akhirnya kita tutup dengan ikhlas apa yang pernah kita simpan diam-diam. Dan tak lagi ada mimpi luka menghiasi malam.

Kukatakan, siapapun yang mendalami hidup, pasti mengerti bahwa nasib tak pernah sederhana. Barangkali Tuhan bermain dadu, barangkali manusia hanya bisa mengadu. Mimpi jelas ilusi dan harapan bisa mati dini. Karena itu, aku mengerti bahwa luka bisa tak berwarna, bisa juga muncul begitu saja. Ia tidak mengenal hitungan hari, namun pasti mengabarkan rasa nyeri. Yang dalam, yang berdarah perlahan, yang sulit untuk ditahan, yang tidak terlupakan. Bahkan ketika udzur usia diri, dan banyak wajah yang datang dan pergi. Toh kamu tetap tidak terganti.

Itu pula yang ingin kuadukan saat ini..

Advertisements