Pernahkah aku membayangkan keindahan tubuhmu?

Temanku bilang, sepotong senja tak pernah cukup untuk kita. Sebentuk rasa tak pernah bisa memuaskan cinta. Karena itu, kita butuh hasrat akan tubuh. Hasrat untuk menyentuh, mencium, memeluk, dan barangkali bercinta. Penyerahan tubuh, kerelaan, dan kepuasan di dalamnya adalah penanda bahwa kita saling memiliki, saling mencinta. Maka, menjalin hubungan seringkali berujung pada pemenuhan akan hasrat itu; yang dengannya cinta menjadi sederhana. Tapi betulkah?

Hasrat akan tubuh, seks, memang mendasari banyak peristiwa dalam sejarah manusia. Barangkali itu yang menjadi tujuan dan alasan orang untuk berbuat banyak hal dalam hidupnya. Berusaha tampil rupawan, menjalin hubungan, mengumpulkan banyak uang, semuanya didorong oleh hasrat akan tubuh dan kenikmatan. Saya tidak akan protes. Foucault benar tentang hal itu. Meski ia juga mengingatkan bahwa seksualitas bukanlah semata fenomena biologis, kenyataan alamiah yang tidak berubah. Asosial dan melampaui sejarah. Seks bukan semata persoalan hormon, nafsu, dan bentukan kodrati dari Tuhan. Seks adalah penanda cinta yang harus dibaca pula sebagai relasi kuasa. Jika Amin mencintai Aminah dan sebaliknya, maka hubungan cinta antara mereka berdua adalah hubungan yang dibangun dengan segenap wacana tentang pemaksaan, sensor, larangan, dan kekuasaan. Amin atau Aminah hanya akan merasa damai jika bisa mengontrol segenap waktu, tindakan, dan hidup pasangannya. Amin atau Aminah hanya akan merasa memiliki dalam cinta jika sudah terjadi hubungan badan antara keduanya. Rasa suka, rasa sayang, kepedulian, kekaguman, yang semula menjadi muasal cinta, semuanya harus dilupakan karena ia terlalu sublim dan aneh untuk menjadi peristiwa, menjadi alasan cinta, menjadi bingkai hubungan kita. Dus, cinta adalah seks, cinta adalah keterhubungan tubuh dan keterpenuhan hasrat dengan pelbagai manik-maniknya. Cinta adalah porno. Maka lumrah akhirnya, jika ada yang memandang virginitas itu penting adanya. Wajar pula jika ada yang merasa takut untuk menjalin hubungan karena ia berarti kesiapan untuk disentuh, diraba, dan dikuasai sepenuhnya.

Hanya saja, entah kenapa aku tak pernah sepakat dengan hal itu. Cinta terlampau rendah jika ditangkap sebatas sentuhan dan pelukan. Cinta terlalu agung untuk ditangkap semata hasrat dan relasi kekuasaan. Lalu, seperti Plato, aku percaya bahwa cinta adalah gagasan luhur yang lahir dari kesadaran jiwa. Seperti Shadra, aku percaya bahwa cinta adalah cahaya Tuhan yang menyinari transformasi raga. Seperti Chairil, aku percaya bahwa cinta adalah derai-derai cemara, yang bertiup jauh, melintas batas luruh, dan menyapa santun hati manusia.

Itu mengapa tentang tubuhmu tidak pernah terlintas di pikiranku.     

Advertisements