Sebenarnya tak ada yang perlu disesali dari kematian yang datang. Tak ada yang perlu ditangisi dari sosok diri yang menghilang. Siapapun itu. Kawan, saudara, orang tua, keluarga, juga segenap orang yang tinggal di sekitar kita ataupun berada nun jauh di sana. Hanya saja, ikatan cinta yang terlanjur mengalir dalam darah memang sulit untuk dilepaskan. Karena itu pula, di sedikit lembaran ini aku ingin menemuimu. Mengumpulkan keping ingatan tentang hidupmu, waktumu, harapanmu, bebanmu, ruang gerakmu, juga apa yang kini cuma menjadi muasal sesal dan murung bagi hidupku.

Ibu…

Sebagai seorang anak, aku tidak banyak mengerti mengapa ketika kau ada, segalanya begitu ringan terasa. Persoalan apapun yang kutemui di hidupku, semua seakan redup diseka belaianmu. Aku juga tidak mengerti mengapa dibandingkan sosok ayah akan lebih mudah untuk mencintaimu. Mungkin karena aku terikat dengan doa dan darah di dalam rahimmu. Mungkin karena air susu yang menghidupiku, mungkin karena kasihmu yang tak lekang oleh waktu.

Apapun itu. Yang aku mengerti bahwa tidaklah hari berlalu tanpa kau memanjatkan doa yang terbaik untukku. Tidaklah hari berlalu tanpa kau melecut upaya diri mengolah garis nasib agar hidup tak lagi pilu. Karena itu, apa yang terbayang pertama dari sosokmu adalah kerut keras di wajah yang setia mengucap sabar untukku. Bagimu, usia hanya harus dihabiskan agar riwayat darah terus bertahan. Bahkan meski kau sadari sungguh bahwa setiap anak dilahirkan dengan takdirnya sendiri, tidak lantas kau menyerah untuk berdiri. Menantang gugup mimpi di zaman yang seringkali membuat doa habis daya. Dan kerasnya usaha tidak lantas membuahkan hasil yang diinginkan hadir begitu saja.

Kau bilang, seorang ibu tidak akan menyuruh anaknya untuk menjadi kuat agar ia tidak dimangsa waktu. Tapi ia akan berkata; tegarlah, sebab inilah hidup yang kita jalani. Tegarlah, meski peristiwa meremukkan harapanmu. Barangkali itu yang membuatku mengerti mengapa pelupukmu basah namun kakimu enggan menyerah. Mengapa kau setia mengusap kepalaku meski perangaiku hanya membuatmu malu.

Karena itu ibu..

Jika saja masih ada kau dengar suaraku, kukatakan; aku hanya ingin memelukmu, menyandarkan penat dan lelahku di pangkuanmu. Aku tak ingin mencari pengampunan dan maafmu untuk segala salahku, karena kuyakin tak ada cela di kasihmu untuk apa adanya diriku. Aku ingin di saat ini menyerukan namamu, melepaskan rumitnya peristiwa di senyummu. Membenamkan sejuta cita di doamu, sebelum kematian datang, dan aku tak lagi bisa menatap parasmu yang menjadi muasal keheninganku.

Di lembaran ini ibu… Jika akhirnya tak sempat kutuliskan semua rinduku, maka kuberharap semoga ia tertampung pada awan, yang  berarak hening menuju lautan, menjadi aksara mendung, kalimat hujan, dan paragraf dingin yang menetes perlahan di sudut nisan.

Selamat jalan ibu…

Advertisements