Rumahku dari unggun-unggun sajak
Kaca jernih dari segala nampak*

Ia yang pernah mengumpulkan ranting, membakar kayu, mengerti betul bahwa unggun-unggun hanya memiliki usia yang singkat. Hadirnya cukup mengusir dingin semalam, sebelum kita berharap pagi kan hadir dengan seribu hangat. Seperti itulah makna aksara. Ia, apapun bentuknya, dari sajak dan prosa, petuah dan cerita, tidak akan bertahan lama. Tidak akan pernah ia sanggup menjadi perihal yang mengubah rupa diri dan dunia. Kecuali sesingkat hangat yang kita cari di tengah peluk dingin dan sunyinya rasa. Karena itu, di rumah ini, aku tidak menjanjikan musim yang panjang untuk kita lalui bersama. Aku hanya mampu mengatakan bahwa di sinilah orang terhindar dari dusta. Sebab yang berbicara adalah benggala peristiwa. Yang bercerita adalah makna dari kata dengan sendirinya.

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu*

Aku tidak mengundangmu masuk ke rumahku, meski sempat kuniatkan itu. Tiada alasan mengapa, kecuali ketakutan dengan rasa iba kau pandang diriku. Rumahku tiada dinding yang menahan angin. Tiada nyanyi yang mengusir sunyi. Bulan pun padam hingga malam bertambah kelam. Tidak kau lihat rupa bahagia, sebab yang mengaduh adalah petanda luka. Namun, jika kau memaksa, maka datanglah tanpa prasangka. Sebab tanpanya barulah kita dapat bercengkrama. Bertukar riwayat dan cerita. Sebelum akhirnya pelupuk di hadap malam menyerah, dan keramaian hilang arah.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap*

Jika pun tak kau temui aku di rimba itu, maka berjalanlah hingga kau temui muara sungai. Mungkin saja aku sedang mematung di sana. Seperti karang yang memuja laut, sang penampung segala hanyut. Di semenanjung itu, aku selalu berpikir luka hidup kan terbalut. Jikapun masih terasa, maka aku hanya harus menghibahkannya pada ombak, awan, angin tenggara, pasir, dan luasnya samudera yang mengecilkan makna lara. Sebelum akhirnya kuteriakkan selamat jalan pada aksara. Pada hidup yang semakin redup, pada sunyi yang tak kunjung berhenti, pada cinta yang cuma sekali; dan kau bawa pergi..

________________________

* Potongan sajak Chairil Anwar: “Rumahku”
* Potongan sajak Chairil Anwar: “Yang Terampas dan Yang Putus”
* Potongan sajak Chairil Anwar: “Senja di Pelabuhan Kecil”

Advertisements