Karena setiap kita dalam diam beranjak tua. Maka memelihara nama adalah satu-satunya pilihan yang tersisa. Aku tidak banyak mengenalmu. Begitu pun dirimu pasti kan asing akan segenap tuturku. Tapi aku percaya bahwa ruang tak seluas yang kita kira. Selalu ada perihal yang membuat kita sama sekaligus berbeda: bersulang atas kehidupan sebagai manusia.

Tapi menjadi manusia, seperti kita tahu, tak pernah mudah. Ia harus mengerti benar bahwa hadirnya adalah sebuah keterbuangan tanpa diminta. Ia harus tahu bahwa peristiwa bisa saja menghadirkan luka, dan harapan tak pernah terwujud dengan sendirinya. Karena itu, banyak dari kita yang tak bahagia.

Albert Camus, filsuf eksistensialis itu bilang, setiap kita adalah Sisifus. Kita dikutuk untuk mendorong batu ke puncak gunung tanpa boleh menggerutu, lalu ketika sampai di puncak, batu itu dijatuhkan lagi oleh para dewa untuk kemudian kita dorong lagi dan terus begitu. Manusia itu menyedihkan, namun kita hanya harus membayangkannya bahagia.

Aku tidak ingin membuatmu bersedih untuk semua kenyataan ini. Aku justru ingin mengajakmu sebentar saja merayakan apa yang tak pantas kita tangisi. Bahwa hidup takkan pernah kita temukan maknanya ketika kita terlalu enggan menjalaninya. Bahwa bahagia takkan pernah kita alami ketika kita terlampau sibuk mencarinya. Karena itu, berjalanlah. Jangan biarkan kehilangan hal yang sejatinya tak kau miliki membuatmu berhenti mencari. Jangan biarkan buramnya waktu membuatmu takut untuk bernyanyi. Jangan biarkan takdir ‘keterbuangan’ ini berakhir terlalu dini, tanpa sempat kita syukuri.

Kutuliskan ini karena aku dalam diam menyayangimu. Berharap yang terbaik selalu menaungi jalanmu. Ada banyak hari yang di hidupmu yang kan kau temui, dan barangkali ia sanggup memberikan jawaban atas pertanyaan yang kau cari. Juga mengabulkan harapan sederhana kita tentang menumbuk biji kopi di tepi danau dewa api, atau sekadar menikmati suasana kota Madrid di sepertiga pagi. Semoga..

Advertisements