Sejujurnya terlalu singkat waktu yang kita miliki untuk memutuskan apa yang menjadi pilihan. Dan diam, itulah yang kau putuskan. Tapi aku, di jalan itu, masih bertahan dengan kebisingan paras dan nama beribu yang tak bisa kulukiskan satu-satu. Lalu airmata tiba-tiba sudah kutemukan menggenang di pelupukku. Di antara ketidakjelasan rindu dan temaram senja itu, aku ternyata hanya memikirkanmu. Karena itu pula kuputuskan untuk tidak membisu, dan menuliskan setiap jengkal keharuan yang masih bermuara padamu.

Aku, barangkali terlanjur menemuimu dalam usia yang tak lagi muda. Pikiran dan waktuku pun tak lagi sederhana. Tak lagi riang sebagaimana harusnya seorang anak tanpa dosa pertama. Tapi aku bertahan dalam keyakinan akan kesederhanaan cinta dan pikiran. Bahwa ia bisa memagari keraguan agar tak lagi menghampiri; dan menjadi muasal kehilangan. Lalu, di antara semua beda yang tak terhapuskan, aku ternyata hanya menginginkanmu. Karena itu pula kutetapkan untuk tidak melepaskan, dan menjaga setiap kerling ingatan yang sempat kau titipkan.

Dari jarak berdepa serta malam yang lunglai aku selalu ingin menyampaikan salam padamu. Dan bertanya pelan-pelan tentang keadaanmu, agar tidurmu tak terganggu. Dengarlah pula setiap baris doa yang jatuh begitu saja dari gerak bibir di kala rindu meraja. Aku ingin berdiri di sampingmu, memegang erat tanganmu, dan kukatakan; tidak ada yang perlu kau takutkan. Semua akan baik-baik saja. Tapi itu hanya ilusi dalam remuk redam kenyataan hidupku. Aku hanya bisa menjumpaimu dalam jarak yang ingin sekali kupangkas namun tak jua dapat kulakukan. Lalu, di antara kisah dan imaji yang kurangkai semu, namamu ternyata begitu nyata di hadapanku. Karena itu pula kuniatkan untuk terus memanggilmu, dan berharap ada satu hari kau bisa mendengar suaraku.

Hingga akhirnya kusadari, rasa ini kejoraku, tak pernah bisa kuendapkan dalam kesunyian hidupku. Ia selalu saja memenuhi setiap rongga dada, dan membimbing seluruh waktuku menuju dirimu. Meski berulang kali kuyakinkan untuk cukup saja bertahan di sini, di dunia kecilku, dan membiarkan kau menjalani musim yang panjang di ingatanku. Tapi aku tak kunjung mampu. Karena itu kuharuskan lembaran ini bertepi padamu. Dan menarik ketulusan yang moga saja masih tersimpan di hatimu. Lalu dalam berbagai antara yang tak bisa memberikanku pilihan, kuputuskan; cinta ini hanya untukmu.

Manisi, Oktober 2011

[Tulisan lama, mumpung filenya masih ada, simpan dulu di blog.. ]

Advertisements