Kutitipkan kata-kata ini padamu sang pagi. Karena kuyakin dirimulah yang sanggup menjaganya seperti setiamu memulai hari. Kan kuawali pula ia dengan doa, semoga tak lekas siang tiba, dan pudar cahaya embun yang menyimpan aksaranya. Kukatakan, aku masih di sini. Memandang sejarah kota yang sempat menjadi saksi kisah diri. Menghitung hari dan janji ia kan kembali. Lalu, jika sempat, menuliskan sebait prosa sederhana tentang dirinya yang kini entah di mana.

Tidak sedikit waktu yang kubasuh dalam keyakinan bahwa ia kan datang. Membawa rindu yang jauh dan menegaskan apa yang selama ini hanya bayang. Kukatakan, raga ini mungkin saja jatuh, tapi hatiku takkan mungkin berpaling kenang. Itu yang menguatkanku untuk bertahan di tengah amuk prasangka dan rasa bimbang.

Kutitipkan kata-kata ini padamu sang pagi. Tentang diri yang bertahun resah menahan basah di pelupuk mata. Tentang mimpi esok hari kan ada keajaiban berjumpa muka. Tentang kesunyian yang memasak sesak dalam dada. Tentang harapan yang menjadi muasal garis dan aksara. Kukatakan padamu wahai pagi, di dingin yang kau beri, selalu ada celah bagiku menitipkan rindu ini. Berharap ia kan membuka jendela dan membaca luka yang disimpannya. Meski itu hanya inginku dan takkan ada ujungnya.

Tidak sedikit waktu yang kubasuh dalam ketakutan bahwa semua ini percuma. Meyakini bahwa takdir bisa saja mengalah pada keteguhan cinta. Bukankah semua sudah diciptakan berdasarkan kasih-Nya? Kukatakan, nasibku boleh saja buruk, tapi cintaku takkan pernah berubah bentuk. Itu pula yang menguatkanku untuk terus terjaga di sepanjang usia melawan lupa.

Dan kutitipkan kata-kata ini padamu sang pagi. Bahwa sejauh ini selalu kurawat namanya. Menjaga apa yang dulu utuh kuberikan padanya. Sebelum akhirnya dengan getir kututup catatan ini lalu mengerti; ia mungkin saja tidak akan kembali. Dan kisah itu berakhir di sini.

Desember 2012

Advertisements