Saya tidak mengerti bagaimana alam bekerja. Tapi pikiran saya selalu terusik dengan kenyataan bahwa apa yang diterima tidak selalu berbanding lurus dengan usaha. Seseorang, hanya sebatas menuliskan coretan garis dan satu nama bisa mendapatkan ratusan juta. Tapi mereka yang berpeluh di tengah terik bahkan belum tentu mampu membeli sepitak tanah di sepanjang usia. Tuhan, dalam iman yang tidak saya pahami, tentu adil adanya. Tapi hidup, tidak pernah adil, apapun alasan bijak untuk menentangnya.

Barangkali karena harapan tidak pernah pasti hukumnya. Maka ia yang berprasangka baik pada hidup, adalah ia yang siap terluka. Kita mungkin terbiasa menaruh doa untuk segalanya, dan secara diam-diam berharap Tuhan kan menjawabnya secepat sangka. Lalu, setelah sekian lama, kita tiba-tiba tersadar bahwa hidup hanya berjalan dengan sendirinya. Apa yang kita dapati dari peristiwa ternyata tidak lantas menjadi penanda baik atas harapan lama. Namun, kita tetap berharap lagi, dan berdoa semoga kali ini alam bekerja selaras ingin diri. Dan kembali hidup hanya berjalan dengan sendirinya. Sedang kita semakin tak sadar bahwa kita memang tak pernah punya kuasa.

Manusia itu menyedihkan. Bukan semata karena hidup tak mengenal rasa kasihan. Tapi oleh fakta bahwa ia terjebak dalam ilusinya sendiri untuk membuat perubahan. Saya katakan, kalimat pikiran dan bahasa kenyataan tidak pernah bisa dieja secara sama. Nalar boleh saja menyatakan bahwa satu usaha ditambah seribu doa sama dengan 1001 kemungkinan ada hasilnya. Tapi tidak dengan kenyataan. Satu usaha berarti satu kesempatan untuk berhasil dan sejuta peluang untuk tidak mendapat apa-apa. Seribu bait doa berarti seribu bait penghapus dosa dan meneguhkan iman bahwa hidup akan baik-baik saja. Tidak lebih, itu saja. Jika ternyata antara hukum pikiran dan bukti dalam kenyataan selaras ejaan, maka itu hanya keberuntungan.

Masalahnya, seberapa besar keberuntungan kita? Saya ingat nasehat Kyai saya di Gontor itu, sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keberuntunganmu. Saya jelas tidak mengerti bagaimana caranya. Saya insyaf, maka saya beruntung. Klausa itu hanya menambah kesadaran saya bahwa hidup takkan pernah sesederhana rumus matematika. Tapi itu terlalu rumit, hingga otak saya lebih memilih berilusi lagi; semoga besok saya beruntung, dan hilang kesialan hari ini.

Manisi, Desember 2012

Advertisements