Semestinya kamu mengerti. Anggapanmu bahwa segenap tulisan di blog ini menunjukkan narsis diri, itu terlalu rendah. Kukatakan sekali ini saja, blog ini, ruang ini, halaman di sini, tidak untuk menyatakan apa yang terjadi pada diri. Tidak juga untuk berbagi. Tidak membawa ajakan untuk dihayati. Aksaraku duniaku. Jika di selanya kau temukan hal yang berpaling dari minatmu, itu urusanmu! Jangan dijadikan alasan untuk menilai sebenarnya diriku.

Semestinya kamu mengerti; tulisan yang ada di sini, bisa saja lahir dari semata kalimat yang tereja begitu saja. Terkadang tidak bermakna apa-apa. Tidak menggambarkan apa yang didapati dari peristiwa. Apalagi menjelaskan dengan rinci setiap pengalaman diri. Kukatakan padamu, apa yang terbaca di lembaran-lembaran ini kadangkala hanya hasil abstraksi. Atau semata permainan kata yang tidak mengandung ukuran, logika, dan kebenaran pasti. Jika setelah itu kau hanya bisa menumpuk rasa benci, itu persoalanmu. Kuanjurkan: enyah saja dari sini.

Semestinya kamu mengerti; ada hal-hal yang tak bisa dilihat hanya dari luarnya saja. Kejujuran pun terkadang memiliki wajah ganda. Apalagi dalam konteks manusia. Aku, kamu, dan setiap orang di luar sana, sudah terlahir dengan kesemrawutan karakter dan takdir yang berbeda. Tidak lalu kau bisa merangkumnya hanya dalam satu warna. Bahkan hitam bisa saja mengandung gemerlap cahaya, seperti halnya putih tidak selamanya berarti ketiadaan noda. Dari itu, jika akhirnya kau hanya bisa mencela orang selain adamu, itu masalahmu. Dan takkan pernah kubilang “wow” untuk sikapmu itu.

Semestinya kamu mengerti; kita semua hanyalah debu. Ciptaan kecil di luasnya semesta yang takkan menangis oleh hilangnya dirimu. Bahkan bagiku, kamu dan nalar setangkupmu itu bukanlah apa-apa kecuali sekadar pemangku jemu sewaktu. Jika di lembaran ini aku menjengukmu, maka yakinlah aku menuliskannya dengan tawa sinis dan cemooh yang panjang dalam hatiku. Kukatakan, aku bukanlah Nabi dengan hati yang sudah dicuci. Karena itu, aku tidak terluput dari amarah dan keegoisan diri. Tapi aku menolak sebagai iblis ataupun kawanannya, karena dalam riwayat panjang usiaku selalu kujaga sebuah cinta. Dan itu bukan untukmu.

Ah, sepertinya kamu tidak akan pernah mengerti..

Manisi, November 2012

Advertisements