Menulis itu perlu ketika tak ada yang bisa kita bicarakan lagi. Itu barangkali yang aku ingat. Dari kamu, di malam itu, dahulu kala. Ketika itu, kau masih menyimpan semangat untuk menyetubuhi aksara. Merangkum kata dan rasa sepi di dalam bait-bait yang kuanggap berlarian begitu saja. Mengajakku terpejam, diam, dan terpekur dalam perasaan yang sulit kuartikan. Sebelum akhirnya kau memutuskan untuk berhenti. Mengucapkan serapah yang dalam pada puisi dan saudaranya.

Tapi kau mungkin saja benar. Menulis memang tidak membuat kita dengan sendirinya bahagia. Menulis tidak akan menjadikan kenyataan hidup berganti rupa. Menulis bahkan hanya membuat aku, kau, dan bekas tukang pijatmu itu semakin terbiasa berdusta. Menulis adalah kesia-siaan, terutama ketika tidak setiap kita bisa puitis sejak dalam pikiran. Itu mengapa, meski tak mengerti alasanmu, aku kan menerimanya.

Aku selalu menikmati saat-saat bahasamu mengalir dalam tutur yang berlari dari hulu menembus batas hilir. Saat-saat bahasamu mengalun seraya memadatkan makna waktu dan peristiwa dalam segumpal tawa. Tidak ada perihal yang terluput darimu. Dengan ringan kau bisa menghubungkan hikayat Genghis Khan dengan muasal karapan sapi di Madura. Pakan ayam dan kebangkitan Nahdlatul ulama. Denganmu, aku seperti menunggang mesin waktu. Mengelilingi dimensi kejadian dan melipat jarak antar peristiwa di masa  lalu. Karena itu, meski diriku masih normal, aku jelas menyukaimu.

Kukatakan padamu kawan. Kutuliskan ingatan tentangmu dalam lembaran ini bukan agar kau kembali. Sebagaimana dahulu; denganku menjemput pagi sambil tenggelam dalam ihwal dan huruf yang kita simpan diam-diam. Menanti datangnya wadah dan saat yang tepat untuk menuangkannya tanpa beban. Sebelum kita berdua berangkat pada hidup yang itu lagi; senat, DPR, buku, trio jahanam, om bim, ogay, warung kopi, dan berbagai hal yang jelas tak perlu kusebutkan semuanya di sini. Kukatakan, aku tidak ingin itu. Sejarah hanya akan berarti ketika kerinduan padanya mengendap tanpa harus diwujudkan. Aku hanya ingin saat ini kau berdiri. Berjalan dan mengambil lagi pena dan kertas yang kusimpan dalam harapanku. Lalu menulislah… Menulislah, meski hanya ada tiga huruf dalam ingatanmu. Menulislah, meski kita tidak ditakdirkan menjadi Pram, Chairil, ataupun Seno. Meksi kita tidak lagi biasa begitu.

Dan menulis itu perlu ketika kupikir ada yang harus kita bicarakan lagi.

Advertisements