Akhirnya akupun sampai pada usia itu. Ini sedikit rumit. Ada banyak masa yang dilalui, ruang yang ditempati, peristiwa yang dialami, wajah-wajah yang ditemui, cinta yang dijalani, luka yang diakrabi, persoalan yang diselami, juga huruf, kertas, monitor, kamar, jendela, angin, dingin, awan, hujan, matahari, batu, rumput, jalanan, debu, angkutan kota, desa, sungai, laut, musim, tatap, sumpah serapah, rasa syukur, Tuhan, dan segenap hal yang tidak akan bisa terangkum dalam lembaran ini. Hidup begitu penuh perihal. Meski tidak semuanya bisa diberi makna. Bahkan yang sudah dipahami pun bisa saja berpaling arti. Itu yang akhirnya membuat hitungan usia tidak pernah sederhana.

Seperti november ini…

Ia datang lagi dan lagi. Mengingatkan diri akan bertambahnya angka pada jelajah sejarah diri. Ia datang lagi dan lagi. Membisikkan kecemasan yang sama tentang begitu rapuhnya waktu, sedang keinginan semakin keras mengetuk pintu. Dan ia datang lagi kali ini, membawa pertanyaan panjang tentang tanda kutip yang hilang pada kata yang sudah dibaca terang dari lembaran hidup yang semakin bimbang. <– kalimat ga jelas.

Tapi, barangkali memang tidak setiap tanda harus jelas terlihat. Titik pun kadangkala harus samar, agar nafas bisa mengatur jedanya sendiri. Huruf perlu sirna agar kata tidak selalu bermakna sama. Dan november sesekali butuh dilupakan agar usia dan diri seolah tak berkaitan.

Karena itu, kukatakan padamu diriku: jangan biarkan malam ini berlalu dan gundah menemanimu. Jangan hiraukan angka yang berubah dan biarkan hari menghitung jumlahnya sendiri. Rayakan ia dengan segenap rasa, tawa dan murung, cerah dan mendung. Lalu ucapkan sulang untuk diri yang masih bisa di detik ini duduk ditemani monitor dan sebatang rokok, menulis dan tersedu.

Selamat ulang tahun Arken.

Advertisements