Our life of poverty is as necessary as the work itself. Only in heaven will we see how much we owe to the poor for helping us to love God better because of them. –Mother Teresa

Ada banyak pelajaran, pepatah, inspirasi, wejangan, atau apapun dari kemiskinan. Barangkali itu yang menjadi alasan mengapa miskin itu menarik, seksi, dan cukup berharga untuk dijual, terutama oleh kalangan yang “konon” pernah merasakannya. Chairul Tanjung dan bukunya Si Anak Singkong itu buktinya. Jika anda pernah hidup dalam lobang kemiskinan, lalu anda sukses, maka kemiskinan anda itulah yang menyelamatkan anda sebenarnya. Kemiskinanlah yang membuat hidup anda menarik untuk dibahas, diulas, dianggap sebagai warta dari surga bahwa harapan untuk menjadi sukses dan kaya tetaplah anda. Karena itu pula, tugas satu-satunya dari mereka yang miskin hanyalah menjaga rasa optimis, dan meyakini bahwa itu adalah cobaan sebagai bukti Tuhan masih sayang.

Tapi, pikiran seperti itu, sebenarnya adalah candu. Adalah mimpi. Adalah omong kosong. Adalah Kegoblokan luar biasa yang terus dijual oleh media dan mereka yang kaya. Oleh mereka yang terlampau banyak duitnya hingga sulit sekali untuk sekadar menggratiskan buku tentang hidupnya kepada banyak orang yang “konon” butuh inspirasi agar bisa merasakan sukses yang sama. Oleh para politikus agar subjek yang bisa dirayu dengan ongkos sepuluh ribuan untuk memilih mereka itu tetap ada. Oleh para ulama yang terbiasa menumpuk kekayaan dengan menjual khutbah tentang kecintaan Nabi pada mereka yang miskin dan besarnya pahala kesabaran. Oleh negara agar senantiasa ada indeks yang harus ditingkatkan. Oleh hukum dan aparat agar selalu ada kejahatan yang dilakukan dengan alasan kemiskinan. Oleh Tuhan agar tidak sia-sia Ia menciptakan perasaan iba dan kasihan. Oleh kita semua agar terus ada kesempatan untuk membuang uang recehan dan merasa sudah berbuat kebajikan.

Saya katakan, tidak ada yang perlu dibanggakan dari hidup yang pernah diwarnai kemiskinan. Jika anda kini menjadi artis terkenal yang dulunya anak seorang tukang becak, atau jika anda sedari kecil tidak punya waktu bermain karena harus membantu orang tua dan kini sudah jadi pengusaha kaya, atau jika anda hanya harus membiayai kuliah anda sendiri karena tidak ada yang memberi biaya, maka semestinya anda semakin sadar bahwa hidup harus dipandang dengan tawar apapun kondisinya. Tidak ada yang begitu luar biasa. George Bernard Shaw bilang, Do not waste your time on Social Questions. What is the matter with the poor is Poverty; what is the matter with the rich is Uselessness. Itu saja.

Ada banyak faktor yang menjadikan anda sebagai orang yang sukses dan “berharga” pada hari ini, yang itu belum tentu, bahkan tidak akan teralami oleh orang lain. Takdir masing-masing kita unik dan berdiri sunyi sendiri-sendiri. Karena itu, jangan menjual kisah anda dan berharap orang mendapatkan peristiwa yang sama. Pun jika ada seorang anak di negeri ini yang berhasil mewujudkan mimpi yang sama, maka itu hanya satu di antara 100juta lebih dari mereka yang setiap hari menderita.

Oh, tentu saja anda boleh protes, dan menganggap bahwa kisah-kisah itu perlu, agar semakin banyak orang yang terinspirasi untuk terus berusaha. Tapi, saya katakan, orang tidak butuh inspirasi hanya untuk menyadari bahwa jika lapar, maka ia harus makan. Jika tidak ada uang untuk membeli makan, maka ia harus bekerja. Jika ingin uang berlebih, maka ia butuh lebih dari sekadar usaha dan doa, korupsi, misalnya. Jika anda masih percaya bahwa selalu ada kesempatan dan ruang untuk menjadi kaya secara instan tanpa berbuat kejahatan, saya tidak tahu anda hidup di dunia yang mana.

Saya katakan juga, sepanjang tahun-tahun yang lewat dalam usia, saya hanya menyaksikan mereka yang miskin terus bersambung hingga entah turunan ke berapa. Maka, jangan berharap semesta kan bergerak melebihi apa yang berada di luar kuasanya. Batu tetaplah batu berapa lama pun anda menginjaknya. Air tetaplah air, berapa ember pun anda meminumnya. Saya tidak mengerti, ini logika apa.. hidup itu seperti apa. Saya hanya merasa masygul, miris, marah kepada diri sendiri, karena tidak bisa berbuat banyak untuk merubahnya. Bahkan hutang kepada saudara yang punya blog ini pun belum dapat saya bayar karena ketiadaan dana. Saya tidak mengerti, apa benar setiap orang harus menjadi kaya? Saya tidak mengerti, apa benar kita butuh visi dalam hidup singkat ini? Saya tidak mengerti.. Barangkali itu yang membuat saya tidak bisa seperti orang-orang; menangkap pelajaran berharga dari kemiskinan.

Advertisements