Di tanah lapang itu aku berteriak. Di tengah ribuan manusia. Orang yang tidak aku kenal apalagi bertemu sapa, namun kali ini berpadu denganku dalam satu suara; meneriakkan satu nama… Ariel.. Ariel..

Aku ingin ia mendengarnya. Puji Tuhan jika ia sempat sedetik saja melihat dan tersenyum kepadaku. Diberakin kebo tujuh turunan pun aku rela. Di sini, di sesaknya orang dengan keinginan yang sama ini, aku sangat berharap ia mengerti, bahwa akulah satu-satunya orang yang sangat mengaguminya. Aku bahkan tidak peduli jika di tengah kesemrawutan konser ini ada yang mencopet dompetku. Menginjak kakiku. Mencemooh tingkahku. Aku tidak peduli.

Aku juga tidak ingin berusaha mengerti statusku di hadapnya. Baginya diriku hanyalah peluh yang harus diseka pun aku rela. Aku tidak gila, setidaknya masih bisa menghitung bahwa 1+1 itu sama dengan 2. Yang aku tahu, bahwa diriku ingin sekali berbagi rasa, hidup, makna, kegembiraan, dengannya. Yang aku tahu, di tengah keramaian ini, hatiku kan sunyi jika tak sempat kuteriakkan namanya. Yang aku tahu, ia bagiku adalah idola. Adalah dewa. Adalah muara rasa. Adalah segalanya..

——-

Ok, saya tidak sanggup meneruskan paraghraf imajiner itu. Saya sulit membayangkan pengalaman bahwa –mungkin saja– satu di antara kita memang ada yang seperti itu. Memuja seseorang, mengaguminya, mencintainya, secara buta. Mungkin karena ia seorang artis, vokalis, anggota boyband, atau penulis. Mungkin juga karena ia seorang calon presiden, budayawan, polisi ganteng, ustadz seleb, pejuang HAM, motivator terkenal, cakep ga ketulungan, atau memang dunia sudah edan.

Saya tidak sanggup karena dalam banyak usia yang saya habiskan, saya tidak pernah mengalaminya. Menyukai seseorang, jelas setiap kita pernah mengalaminya. Tapi, dalam konteks menghabiskan waktu dan pikiran untuk seseorang yang notabene tidak berkaitan langsung dengan hidup saya, apalagi yang berjeniskelamin sama dengan saya, oh, itu sulit dibayangkan. Mereka yang tidak memiliki relevansi makna dan jalinan langsung dengan hidup saya itu, apapun profesinya, bagi saya hanyalah ibarat kadal. Jijik tidak, sukapun engga. Ariel, Agnes, Anas, Angie, ARB, Super Mario, Seno Gumira, Abang Rhoma, Batoegana, Afika, dan orang-orang tenar itu hanyalah kadal bagi saya. Tidaklah saya membenci mereka, namun sulit juga untuk sampai pada tahap mencintainya.

Tentu saja mereka atau siapapun yang membaca ini boleh untuk berpikiran yang sama terhadap saya. Silahkan juga menganggap bahwa pendapat saya ini cuma menunjukkan sempitnya ruang pergaulan saya. Atau naifnya individualitas dan kesunyian hidup saya. Lagipula, saya tidak menyatakan bahwa mengidolakan seseorang hingga rela menjual celana itu salah adanya. Saya cuma sulit membagi waktu dan ruang saya untuk mengalami hal yang sama.

Saya pernah mengagumi beberapa orang dalam hidup saya. Sebagian orang yang kenal hari ini bahkan saya anggap sejenis opium untuk hidup saya. Terutama yang saya butuh mereka, meski dalam banyak hal mereka ga ada urusan dengan saya. Yang saya menyayanginya, walau itu tak berarti saya dan dia harus memiliki rasa yang sama. Yang saya begitu mengaguminya, seperti Huang Yi dan Oda, meski saya dan dia tidak pernah bertemu muka. Tapi, di balik kekaguman dan kecintaan saya itu, saya tetap sulit untuk lepas dari keyakinan bahwa hidup tidak lantas menjadi lebih baik hanya karena pernah mengenal, membaca, dan berbincang dengan sebuah nama.

Barangkali karena saya ini pathetic, buruk adat, peruntungan, dan rupa, salah menafsirkan ujaran Sartre tentang orang lain adalah neraka, akhirnya berpikiran seperti ini. Tapi, ciyus, saya tidak bermaksud buruk kepada siapapun. Saya hanya merasa iri dengan Ariel iseng menulis. Toh, yang mampir ke blog ini hanya orang-orang yang salah klik oleh keyword dan algoritma pencarian google yang ditulisnya. Jadi, yang merasa “kadal”, jangan lama-lama bacanya, cepat pergi sana..

Advertisements