Tidak pada darah, tidak juga dagingnya. Sapi, kambing, anas, andi, domba, dan onta. Konon kurban bermakna pada ikhlas niatnya. Pada kegembiraan kaum papa yang mendapatkan jatahnya. Barangkali ritus ini ada karena Tuhan senang hadir di tengah rasa lapar, yang sialnya justru sering menjadi muasal ingkar. Itu mengapa sang Nabi jauh-jauh hari sudah bersabda bahwa fakir begitu dekat dengan kafir. Maka, mereka yang memandang kemiskinan dengan tawar, kiranya paling berhak mendapatkan bidadari surga. Dan bagi yang berpunya, kurban adalah jalan lain ke sana.

Masalahnya, siapa yang fakir di antara kita, ketika semua orang merasa berhak untuk mendapatkan setusuk sate tanpa rasa berdosa. siapa yang sanggup seperti Ismail, menerima perintah dan merelakan nyawa sebagai isyarat pasrah bahwa hidup adalah milik-Nya? Saya tidak sanggup. Bahkan kenyataan nasib diri yang saling berbeda pun, saya belum sepenuh hati menerimanya. Apalagi memberikan jiwa dan raga. Barangkali karena hak milik sudah membuat batas antara diri dan yang bukan diri. Karena itu, ada banyak hal dalam hidup yang harus dijaga, diamankan, ditumpuk, dan dijadikan alasan untuk bekal hidup di hari nanti. Barangkali juga karena manusia sudah dilahirkan dengan rasa cemas di kepala. Terhadap ketiadaan makan hari ini, sakit yang mungkin tidak terobati, kurangnya uang untuk berbelanja esok hari, modal yang diperlukan untuk menjadi Bupati, dan berbagai sebab cemas lain yang sulit diserahkan pada kuasa Tuhan untuk menjawabnya. Maka orang sulit untuk berbagi. Atau sekadar merasa tidak berhak untuk hal-hal yang ada di depan mata.

Saya tidak mengerti bagaimana rasanya menyumbangkan hewan-hewan itu sebagai ibadah bagi mereka yang mampu. Saya hanya paham, bahwa rasa lapar dan kefakiran diri, tidak lantas membuat saya harus merasa berhak untuk daging yang dibagikan pak RT. Masa muda saya begitu angkuh untuk menerima jatah bersama. Nalar saya tak henti menyuruh saya untuk berusaha lagi, meski hasilnya tak kunjung cukup untuk bertolak haji. Saya hanya tahu, bahwa ritus kurban ini juga mengajarkan bahwa orang perlu sesekali bersikap altruistik. Ada bagian-bagian dari hidup yang bukan ‘milik’ kita; yang itu harus diberikan dengan lapang dada. Maka, bukan darah, bukan daging, juga kulitnya. Kurban barangkali adalah jendela untuk hari tanpa rasa cemas dan prasangka. Sapi, kambing, andi, anas, domba, juga onta, hanyalah perlambang untuk menunda keinginan, kepemilikan, juga rasa percuma.

Barangkali…

Advertisements