Saya percaya manusia itu baik. Tapi kehidupan memiliki banyak hal agar manusia sesekali menyimpang, menelikung arah, berpaling dari kebaikannya. Karena itu, setiap bentuk kejahatan tidak pernah sederhana. Ada seribu tujuh alasan untuk orang berbuat hal yang mungkin saja ia sendiri tidak menginginkannya. Ada banyak perihal dan beban yang menjadikan orang sulit untuk tegak lurus pada jalan semula.

Saya percaya manusia itu baik. Karena itu saya sulit meyakini bahwa manusia menyukai kejahatan oleh insting destruktif bawaannya. Freud atau Lorenz barangkali benar di satu hal, manusia memang memiliki insting agresif yang menjadikan perang akan selalu ada dalam sejarah peradaban manusia. Tapi, itu tidak kemudian lantas membuat setiap kita senantiasa bertengkar oleh kepentingan yang berbeda.

Persoalannya, tentu saja keyakinan saya ini jauh air dari bejana. Kekerasan, kejahatan, penyimpangan, entah kenapa begitu sering menjadi berita. Atas nama politik, ego, emosi, agama, kemiskinan, kebenaran, demokrasi, keadilan, dan segunung kepentingan lain; orang dan oknum doyan sekali mengepalkan tinjunya. Apakah hidup begitu rumit, hingga ia harus diurai dengan otot agar tampak jelas warna dan rupa. Apakah dunia begitu buruk, lalu kita hanya harus berbuat seenaknya? Barangkali demikian, saya tidak mengerti, meski ia tidak membuat saya berubah sangka.

Saya percaya manusia itu baik. Tapi bukan berarti “jahat” dibiarkan begitu saja. Hukum diperlukan walau ia tak menyelesaikan persoalan. Aparat wajib ada, meski seringkali ia tidak berbuat apa-apa. Toh, manusia tidak bisa selamanya suci; ia perlu untuk berdosa sebagaimana bunyi sebuah hadits Qudsi. Agar senantiasa ada ampunan untuk tindakan yang tak sengaja, ada hukuman untuk kebodohan yang membuat orang lupa. Jahat diperlukan untuk keseimbangan semesta, sebagaimana putih tak akan terang tanpa ada hitam di sisinya.

Saya percaya manusia itu baik. Karena itu, theodicy yang membuat Tuhan tampak tak adil, tidak ada dalam pikiran saya. Jahat bisa menimpa siapa saja, di mana saja, kapan saja. Tinggal bagaimana orang menyikapinya. Kesalahan jelas ada pada pelakunya, meski korban tidak lantas benar begitu saja. Barangkali itu pula yang membuat sesal bisa menghinggapi keduanya. Renungan akhirnya dibutuhkan, agar hari tak lagi dirundung kesedihan. Termasuk menuliskannya.

saya percaya manusia itu baik, mungkin…

*Sehari setelah helm saya dibawa kabur pengendara motor anjing edan, sedang tiga orang aparat yang ada di waktu kejadian tidak berbuat apa-apa.”

Advertisements