Sebenarnya tidak ada yang salah dengan berkicau. Peristiwa berkembang, dunia berubah, pengalaman bertambah, akal gelisah, dan 26 aksara itu bisa begitu luas hingga harus dipilah, ditata, dan dihamparkan dalam rangkaian ucapan, bisikan, komentar, gagasan, nasehat, puisi, cemooh, juga pepatah. Barangkali itu mengapa orang senang berkicau.

Tapi, dalam banyak hal, sebagian besar di antaranya, orang hanya berbagi ludah dan sampah. Berbagi perasaan seolah ‘wah’ dengan mengetikkan 140 karakter sebagai jendela wajah yang harus difollow, dimensyen, dianggap cerdas, bijak, lucu, kritis, agamis, puitis, murung, senang, jahanam, atau anjing edan.

Sampah, karena twitter, sebagaimana socmed lainnya, bisa menciptakan ilusi tentang diri, hidup, sejarah, peristiwa, cinta, yang dihayati seakan ia begitu nyata. Sampah, karena ia memindahkan apa yang bukan “kita” menjadi bagian diri dan dianggap sebagai sumber makna. Sampah, karena ia bisa menghadirkan perasaan “tidak sempurna”, ketika dalam sehari kita tak sempat bersuara. Sampah, karena secara tidak sadar ada banyak reduksi atas informasi dan pengetahuan yang dipaksakan dalam sepatah tiga ucap kata. Sampah, karena ia dikira sanggup menjadi media yang dapat mengubah dunia.

Meski begitu, seharusnya tidak ada yang salah dengan berkicau. Menulis bukanlah dosa, sama halnya dengan narsis jiwa. Lagipula, orang masuk ke dunia maya, semestinya memang dibekali kesadaran bahwa setiap wajah bisa berdusta. Dari itu, tidak setiap perihal harus dipercaya. Masalahnya, selalu saja ada yang menjalaninya dengan iman yang buta; Jika aku, kamu, dan dia, saling terhubung dalam jalinan kicau, maka hubungan itu harus diiringi dengan prasangka. Oh, itu menyedihkan. Atau barangkali kita terlalu bodoh untuk mengerti bahwa kata tidak selalu menggambarkan kebenaran dari peristiwa. Hasil imaji tidak senantiasa begitu saja ditunjuk sebagai pengalaman diri.

Apapun, memang tidak ada yang salah dengan berkicau. Hanya saja, kita juga sulit untuk menemukan ada yang benar di sana. Barangkali karena setiap ruang pijak yang ditemui hari ini, adalah ruang yang menyatukan fakta dan ilusi, cinta dan benci, dusta dan kejujuran diri, jokowow dan jokowi, aku, kamu, dia, kata, dunia, dan seonggok tahi.

 

—tulisan ini disalin dari blog kedua saya.

 

Advertisements