Menulis itu masih persoalan merangkai sunyi. Menjemput setiap keping hening yang berserakan di tengah bisingnya suara dunia. Menjajaki kerinduan yang pecah dan kalah oleh jarak dan diri yang lelah. Lalu berharap ada yang terjaga dari hamparan huruf dan percakapan diri. Selebihnya adalah jejak aksara yang bisa saja tidak dimengerti, atau dipahami sebagai keterjebakan pada rasa benci juga ilusi, atau sekadar memanjangkan kalimat dan niat yang terlanjur basi. Termasuk paraghraf ini.

Advertisements