Hanya dalam mimpi barangkali orang bisa memugar sunyi. Menjadi jendela, pintu, atap, dinding, dan rumah yang utuh dengan penghuninya. Meski itu tidak berarti kenyataan murung berubah rupa. Berapa sempat kita tertawa, berapa sisa dalam waktu kita berduka. Di rumah itu, setiap diri bisa menghitungnya. Dan untuk sejenak melupakannya.

Hanya dalam mimpi barangkali orang sanggup menambah aksara. Menjadi kata, kalimat, bahkan cerita yang mengilhami muasal cinta. Meski itu bukan berarti guratan nasib menelikung dengan sendirinya. Orang bisa saja berebut tempat di kehidupan nyata, tapi di rumah itu, setiap batas tidak dikenali adanya. Ia menerima segala bentuk angan yang tersembunyi dalam hati. Ia menerima segenap ingin yang terbenam oleh kerasnya kenyataan hidup ini. Lalu setiap diri bisa memilih untuk berbahagia. Dan untuk sekejap menertawakan buruknya luka.

Hanya dalam mimpi barangkali semesta raya bernyanyi. Menggubah irama yang bisa rendah ataupun tinggi. Tentang anak manusia, tentang gunung, batu, lembah, sejarah, dan setumpuk peristiwa. Yang telah terjadi ataupun menunggu hari. Meski itu tidak jua membuat kita bebas menari. Tapi di rumah itu, setiap kita seimbang dalam bait dan nada. Sepotong rindu bisa kita temukan selalu di tepi senja. Lalu untuk sesaat kita bisa saling menyapa.

Ah, hanya dalam mimpi barangkali kita merasa tak ingin kembali.

Manisi, 2 Juli 2012

Advertisements