Selamat malam kawan.

Dini hari sebentar lagi menjelang. Menjemput fajar yang penuh dengan harapan. Kurasa ini saat yang tepat untuk menyapamu, menyampaikan apa yang tersimpan dari insomnia di malam-malamku. Dan seperti dahulu, ingin kupenuhi ia dengan berbagai obrolan tentang kita, tentang kebanalan yang kita cemoohi, tentang kekuasaan yang kita ludahi, tentang tuhan yang tak kunjung kita temui, tentang kekasih yang tak sempat kita miliki.

Apa kabarmu kawan? Bagaimana malam-malammu saat ini? Sudahkah hidup memberikan jawaban atas pertanyaan yang kita ajukan dahulu? Kuharap kau sadari betapa ingin kususutkan waktu dan kembali bersua denganmu. Mengadukan kerut yang kini sudah banyak di wajahku. Menceritakan bagaimana secara perlahan kita beranjak tua dalam tubuh dan pikiran. Sedang bertahun yang kita lewati hanya terasa sejengkal kilas dalam ingatan. Dan itu membuat kesendirian ini semakin menjenuhkan.

Barangkali kita bermakna karena fana. Tapi itu seharusnya tidak membuat ketegaran kita jatuh terlampau muda. Sedang seribu dunia masih ingin kujelajahi, seribu mimpi masih ingin kulelapi. Tapi usia ini, peristiwa yang kita lalui, semua telah mengajarkan bahwa hidup menawarkan banyak pilihan namun hanya ada satu kesempatan. Itu belum ditambah dengan berbagai persoalan yang selalu saja setia menemani. Aku bisa saja menjauh darimu sejak dahulu, tidak perlu pada akhirnya berkutat dengan hal-hal yang justru membuatku cemas akan adaku. Aku bisa saja memilih untuk wajar-wajar saja, melepaskan diri dari pertanyaan yang terus menghantui hidupku. Tapi itu tidak kulakukan, tidak juga saat ini kuacuhkan. Kesempatan dan pilihan itu sudah menggurati takdirku. Dan kuanggap ia karunia terbesar dalam hidupku.

Hanya saja, kali ini aku letih kawan. Toh, matahari juga butuh mendapati gerhana, dan bumi sesekali juga perlu melenceng dari orbit rotasinya. Tapi yakinlah, itu tidak membuatku jemu mengirim isyarat rindu, kepadamu, kepada setiap kebenaran yang kita titipkan tanda ragu. Aku hanya ingin kali ini sejenak mengingat kenangan itu. Mendapati warna yang merona dari ingatan seadanya. Lalu jika akhirnya tak kunjung memuaskanku, kutuliskan ia dalam lembaran dan berharap kau kan baca. Meski yang kau dapati hanya satu aksara dan sebuah koma..

Lagipula, seperti berulangkali kuyakini, pada akhirnya sunyi jua yang kan bercerita.

Advertisements