Derrida’s essay begins with the word “perhaps,” which signifies that in deconstruction, everything is provisional; you can’t make positive/definitive statements. Nevertheless, I’ll proceed as if you can. This is another key to deconstruction–even as you come to understand that nothing is stable, that meaning is always contingent and ambiguous, you continue to act as if nothing’s wrong…

Saya tidak mengerti mengapa tadi malam saya membaca Derrida. Tidak juga saya mengerti mengapa kemarin saya membaca Eiichiro Oda. Saya tidak mengerti mengapa saya merasa harus membaca. Bahkan alasan mengapa saya membaca ini, membaca itu, tidak saya punya. Apalagi pemahaman tentang apa yang dibaca. Saya ini bebal bin celaka. Otak saya tidak seencer Anis, Anas, Anus, Ruhut, Rizieq, Sri Bintang, Sri Mulyani, bang Ruhut, bang Rhoma, juga Batoegana. Mereka orang-orang hebat, yang lancar berbicara tentang politik, hukum, agama, ekonomi, budaya, dan masa depan Indonesia. Saya udik, kampungan, tidak mengenal apa itu mode, fashion, selera tinggi, gaya hidup, seperti para artis, calon artis, yang merasa artis, dan mantan artis itu. Saya gaptek, tidak pernah mengalami apa itu mabuk teknologi dan berbagai gejalanya. Blackberry, blueberry, acaiberry, atau henpon yang katanya berbasis apa itu saya lupa, android, atau apalah, semua itu saya belum pernah memegangnya. Tidak seperti tetangga saya yang mau makan, jalan, bahkan berak pun sepertinya sibuk ngetwit, apdet status, atau berbagi foto narsis tentang hidupnya. Saya miskin, sengsara, mengkhawatirkan, tidak pernah mencecap bagaimana rasanya keluar negeri, berbelanja di toko anu dengan merk tertentu, menginap di hotel dengan bintang paling tinggi, atau sekadar nongkrong di café, berbicara tentang apa yang akan dibeli esok hari, kontrak dagang apa yang akan disetujui, atau itu atau ini, saya tidak pernah mengalami, saya tidak pernah mengerti.

Saya hanya paham bahwa duit tiga ribu yang ada di saku celana itu harus cukup untuk dua hari. Saya hanya paham bahwa di lingkungan kontrakan ini, di kota ini, saya sendirian. Tidak ada orang tua, tidak pula sanak saudara, karena itu saya tidak bisa hanya berdiam diri atau berharap bantuan dari tetangga. Saya hanya paham bahwa harta yang saya punya hanyalah setumpuk buku yang tidak bertambah sejak 3 tahun pasca reformasi, sarung, karpet, kaos sisa Pilkada, dan monitor 15 inci. Saya hanya paham bahwa setelah Magrib itu saya harus mengaji, mendoakan almarhum bapak yang seumur hidupnya tidak pernah memiliki tv. Saya hanya paham bahwa keyakinan tentang adanya hidup setelah mati dan pembalasan perilaku di dunia ini jangan luntur adanya. Saya hanya paham bahwa ada banyak sekali orang yang berdoa tentang hal yang sama, karena itu naïf rasanya jika harus kecewa karena doa tidak juga menjadi nyata. Saya hanya paham bahwa mantan pacar saya itu lebih baik bersama orang lain daripada mencintai seseorang seperti saya. Saya hanya paham bahwa jika saya terus membaca Derrida niscaya pening kepala saya. Pun jika detik ini saya menuliskan tentang hidup saya, tidak akan ada yang membacanya.

Saya juga memiliki kelebihan. Saya pintar menuliskan hal-hal yang saya sendiri tidak mengerti maksud, tujuan, dan maknanya. Saya mahir membuat kalimat yang saya sendiri tidak tahu mana subjek, predikat, dan objeknya. Saya terampil berbohong pada diri saya sendiri dan berkata saya bahagia. Saya ahli dalam hal bersikap murung, pesimis, menghina diri dan hidup saya, seolah dunia yang diwariskan Adam dan Hawa ini buruk dari awalnya. Saya jagonya dalam merayu hati perempuan lewat untaian kata dan prosa cinta walaupun tidak jua hari ini saya berumahtangga. Saya pandai sekali dalam mempertahankan ego meski pada akhirnya banyak yang membenci saya. Oh, dan saya menganggap bahwa Asmaraman S. Kho Ping Hoo itu jauuuuuh lebih baik daripada penulis macam Andrea Hirata apalagi Raditya Dika.

Tapi seperti Derrida, “barangkali” itu semua hanya perkiraan yang harus saya tunda makna dan putusannya di benak saya. Barangkali di semua hal yang saya dapati sekarang, ada sesuatu yang membuat saya masih dapat lepas hati tertawa. Barangkali ada bahagia yang sama di hidup orang-orang lain seperti halnya di hidup saya. Barangkali hitungan waktu, senin, selasa, sampai minggu dalam pikiran saya dan mereka tidak berbeda hasilnya. Barangkali ketiak orang-orang pintar dan hebat itu juga banyak bulunya. Barangkali surga dan neraka itu memang ada. Barangkali doa harus pakai tawasul agar lekas sampai di langitnya. Barangkali Osama bin Laden itu tidak pernah ada. Barangkali saya besok harus jadi anggota FPI atau jadi editor Rakyat Merdeka. Barangkali Abu Rizal itu tidak pernah makan nasi. Barangkali kucing di halaman kontrakan itu agen Nazi. Barangkali tulisan ini semakin kacau dan harus saya akhiri. Barangkali…

Dan saya tetap tidak mengerti mengapa saya kembali membaca Derrida malam ini.

Manisi, Mei 2012

Advertisements