Basyir:

Bagiku sama saja, kelompok manapun, bertiga atau lebih, semuanya hanya persoalan bagaimana menjual dan membeli. FPI, MMI, FUI tak ada bedanya. Tujuannya sama, meski barangkali tinju yang satu lebih kencang daripada yang lainnya.

Amir:

Kurasa tidak begitu. Ada orang-orang tertentu yang masih setia pada misinya. Mereka bertujuan yang tidak semata uang. Mereka melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk menjaga nilai-nilai kemurnian tersebut. Dirimu tidak bisa memukul rata. Apalagi seperti kata pepatah, jangan menilai buku dari tampilannya. Adapun jika mereka membentuk kelompok, dan terlihat seperti menyaingi kelompok yang lain, itu karena dengan berkelompok maka tujuan semakin mudah dicapai.

Basyir:

Ah, omong kosong! Satu kelompok muncul adalah karena mereka melihat peluang yang sama dengan kelompok lain soal peluang. Persaingan itu adalah persoalan negoisasi, nilai jual, dan tenaga yang mereka punya. Kalo perlu mereka pura-pura bentrok, atau bentrok beneran dengan kelompok lainnya, bertengkar di media, lalu muncul wacana, bukankah itu promosi gratis? Paling tidak, semakin dibicarakan, semakin tinggi nilai jualnya. Dan ujung-ujungnya duit! Duit bro! tidak ada yang lain… Satu orang barangkali punya niat mulia, tapi ketika ia berkelompok, maka ia memiliki kekuasaan. Tidak perlu aku sebutkan bahwa kekuasaan cenderung korup bukan? Tidak ada itu misi suci, atas nama apapun, nilai-nilai ideal, seni, agama, ideologi, yang ada cuma persoalan fulus.

Amir:

Tidak. Saya tidak percaya ini semata persoalan duit. Kalo cuma persoalan duit, bukankah mereka bisa melakukan hal lain yang lebih menghasilkan tanpa harus mengindahkan cibir dan caci maki yang mereka terima sekarang? Ada pretensi lain yang ingin dicapai, dan itu membuat kelompok tetaplah penting. Barangkali bukan kekuasaan yang cenderung korup, tapi segelintir orang yang berada di balik itu dengan niat yang busuk yang membuat satu kelompok menanggung buruknya. Tapi itu lebih baik daripada semata berpangkutangan, tidak melakukan apa-apa, terutama ketika segala batas ideal sudah tidak lagi nyata.

Basyir:

Jangan kau lupa, kejahatan itu seperti virus. Ia menular, menggerogoti segenap inci file yang terdapat dalam sebuah sistem. Mereka yang tadinya bersih, tinggal menunggu waktu untuk berganti rupa. Bagiku perjuangan pada hari ini tidak bisa dilakukan secara berkelompok. Ia harus dilakukan oleh setiap hati yang masih peduli. Sendiri-sendiri. Dengan kebaikan kecil yang terjadi setiap hari, meski itu hanya bermakna untuk hidupnya sendiri.

Amir:

Kau terlalu sinis saudaraku. Tidakkah kau lupa perjuangan pribadi tidak pernah bisa melawan dunia dan segala isinya. Ia yang sendiri, ia yang terlupakan dan mati tanpa dikenali. Apa yang bisa diingat dari itu? Karena itu, kerjasama penting. Dan itu tidak bisa kau pungkiri. Dengan teman di sisi, kau masih bisa tertawa meski segenap penonton mencaci. Ketika disalahkan, kau tidak sendiri.

Basyir:

Aku memang sinis dan terlanjur pesimis. Itu mengapa aku lebih memilih untuk bernyanyi dan berjoged sendiri malam ini. Kau sajalah yang berangkat, aku cukup memutar radio atau tv di sini.

Amir:

Baiklah, besok kita bertemu lagi. Aku berangkat.

*Sebuah percakapan sebelum menonton konser Dangdut Trio Macan yang sebelumnya secara tidak sengaja menonton wawancara bang Rhoma tentang kemarahannya atas dangdut koplo*

Advertisements