Udara begitu tenang. Hanya terdengar angin tak berwujud di sela daun. Pelan, sejuk, bak kidung yang timbul-menghilang. Lembah di sela hadap tampak lengang. Pun Rambai di sampingnya kokoh menjulang. Sirang dan gunung Halimunan setelah 22 tahun berlalu ini masih seperti dahulu. Masa-masa meranggas dan berlalu, tapi parasnya tetap angkuh menantang waktu.

Aku ingat di tepi lembah itu bercengkrama memakan jemu. Sebagaimana bocah dengan fantasi beribu, sendu dan riang beradu. Saat itu tidak ada kamu, tidak ada persoalan yang membuat hidup terasa pilu. Segalanya masih baik-baik saja. Semuanya masih belum mengenal arti luka. Hanya aku dan sebutir embun yang berulangkali luput kutangkap basahnya.

Barangkali lembah ini kelak bertahan cuma dalam ingatan. Sebagaimana peristiwa masa kecil yang gugur perlahan. Tidak pernah ada yang sanggup kekal di tengah amuk zaman. Itu mengapa hari ini aku di sini tersedu. Membawa kehadiran dan segenap dendam rindu yang tak kunjung letih menunggu. Ingatan itu pula yang menuntunku hari ini mengadu. Menggenapkan segala ganjil rasa yang kutemui dalam hari. Meski itu berarti menggulung jarak dalam perjalanan yang aku ragu kan menemu arti.

Tapi kadangkala manusia cukup bahagia dengan hidupnya harapan. Karena itu sampai atau tidak bukan persoalan. Yang utama adalah terus berjalan. Sebab ruang yang dilalui bisa saja mengandung berbagai kemungkinan. Juga mengandung hadirmu dan kisah kita. Karena itu selalu kutuliskan dalam perjalanan sebaris doa. Tentang namamu yang hilang, tentang luka yang panjang, tentang kerinduan pada satu bayang. Juga tentang damai yang kuinginkan dari perjalanan pulang; ke lembah ini, ke udara ini, ke ingatan ini.

 

Rantau, Mei 2012

Advertisements