Malam ini, sebentar sempat inginku menemui hatimu. Mengucapkan apa yang terpendam dari rindu. Menyampaikan segala yang terhirup di nafasku; dan itu kamu.

Rindu itu seperti gigil. Ia bergetar ketika dingin musim memanggil. Ia hanyut dari tatap dan membawa segenap perasaan terkucil. Lalu, apapun itu yang bertolak dari logika kan terasa ganjil.

Karena itu perempuanku, rinduku setia meski renta usia ini. Rinduku tak lamur meski udzur ingatan diri. Dan malam ini ia tertulis untukmu agar kau mengerti: rinduku abadi.

Manisi, 2012

Advertisements