Kulihat ada tangkai patah di matamu, kering dan layu.
Seperti getar riak di telaga, hening dan pada tepi ia berlalu.

Apa yang membunuh harapan? Setidaknya itu pertama yang harus saya tanyakan ketika dalam doa, Tuhan disebutkan. Saya ingat tamsil harapan seperti petasan itu, menggelegar, terang, untuk kemudian lenyap dalam senyap. Oh, apa yang menjadi alasan orang untuk terus berharap. Ketika hidup dan kenyataan di dalamnya tak pernah berjalan sebagaimana mestinya. Ketika doa tak pernah sesederhana baiknya prasangka. Ketika mukjizat hanya diperuntukkan bagi mereka yang istimewa di hadap-Nya.

Hari itu sabtu yang terik. Saya memulai hari dengan kepala yang seminggu sudah dipenuhi masalah. Dari tagihan yang menumpuk, rasa lapar yang menggerogot, kondisi ibu yang butuh pengobatan, adik yang perlu bayar iuran, serta kekecewaan pada orang-orang yang hanya manis di mulut untuk memberikan bantuan. Hari ini mesti ada yang dilakukan. Apapun itu. Entah melacur lewat tulisan, mencari pinjaman, mengamen dengan tepukan, menjual harga diri dan badan, apapun! Bukankah dalam usaha yang tegas ada hasil yang jelas?

Tapi, waktu memang melebihi cahaya. Ia beringsut tidak terasa. Dari pagi yang dipenuhi asa itu, senja akhirnya tiba. Mungkin hanya sedikit hal yang dibuat hari ini. Dari menawarkan jasa, menjual apa yang tersisa, dan merebahkan diri pada doa. Tapi, tidak ada apapun kecuali keringat beradu di kemeja yang berdebu. Ini hari hanya berujung pada sakit di ubun-ubun. Rasa lapar? oh, saya sudah lupa kapan terakhir saya menikmati menu yang paling sederhana. Mungkin sepotong singkong goreng yang diberi oleh tetangga itu. Mungkin sebungkus mie rebus yang dibagi bertiga tengah malam itu. Mungkin separuh sajak yang tertulis di dekat pintu. Entahlah, saya lupa.

Dunia memang baik-baik saja. Itu mengapa saya hari ini masih bisa dalam tulisan mengadu. Dunia baik-baik saja. Itu mengapa saya hari ini masih bisa tertawa. Meski itu berarti bahwa harapan yang menggelegar harus dibaca dengan nada sabar. Meski ia bermakna ada yang tak berubah dari kenyataan diri yang bermasalah. Tapi hari ini harapan sudah bergetar dari hati. Dan esok hari, mungkin baru tiba di sini.

Manisi, April 2012.

Advertisements