Kelak usia menuakan kita. Lalu waktu terasa sempit, dan setiap pagi tercium aroma senja. Apa yang terjaga hanyalah secuil ingatan tentang rindu yang tak selesai, janji yang tak terurai, juga cerita kita yang tiba-tiba usai. Karena itu dalam tulisan aku merawatmu. Menjagamu dari setiap karat dan debu. Hingga akhirnya maut menjelang dengan namamu yang terucap pelan dari bibirku.

Kelak usia menuakan kita. Apa yang terlihat hanya warna putih di atas kepala. Lalu tanpa sadar kita tersedu oleh bayang yang tiba-tiba datang merayu. Bahwa ia yang tak nyata ada di sisi bisa saja abadi bersembunyi di sudut hati. Bahwa ia yang bertahun ditinggalkan bisa saja setia mengendap dalam pikiran. Karena itu aku merawatmu dalam tulisan. Sampai tua, sampai tak ada lagi yang bisa dituturkan. Agar kau mengerti, hidup hanyalah tentang menjaga arti.

Kelak usia menuakan kita. Apa yang terkecap hanyalah sejumput rasa bosan pada hidup. Semua yang terlihat, terdengar, terasa, dari awan di tenggara langit, jendela tua dengan sebatang pohon di depannya, tiang-tiang lampu di sudut kota, tidak lagi memberi kesan kecuali sedikit memar dalam ingatan. Lalu, entah siapa yang hanya tinggal nama tiba-tiba terbaca dan hadir basah di pelupuk mata. Peristiwa dan harapan ternyata lebih sering memilih enggan bertutur-sapa. Kita pun sadar, dari usia tua itu yang tidak beranjak hanyalah doa. Bahwa aku ingin seribu tahun lagi dalam tulisan merawatmu. Mengeja namamu sebagai pelita dalam gelap hidupku. Ketika zaman berubah, peristiwa menjadi kisah, dan kita hanya bisa menunggu kematian dengan pasrah.

Suatu kelak hanya tulisan yang mengabarkan; aku telah menjagamu.. menunaikan apa yang kusadari sebagai takdir dari adaku.

Manisi, 2012

R. arken

Advertisements