Pernah sekali di masa lalu aku membaca. Bahwa keriuhan dan sesuatu yang hadir dalam kebersamaan hanya membuat orang lupa. Tentang makna, tentang rasa percuma, tentang hal-hal yang dalam obrolan tak pernah ada. Karena itu Diandraku, dalam kesendirianku di tulisan ini, aku ingin mengingat kembali semuanya. Meski itu berarti meninggalkanmu sebelum usai cerita.

Orang bilang, kemiskinan terburuk adalah kesendirian dan kehilangan cinta. Tapi barangkali itulah harga yang harus kubayar untuk mendapatkan kembali ingatan tentang apa yang kulupa. Ingatan tentang betapa hidup hanyalah kesunyian gerak yang tak bisa dihayati secara bersama-sama. Ingatan bahwa nasib bisa saja percuma, karena toh pada akhirnya semuanya hilang dan fana. Ingatan bahwa makna tak pernah datang dari kebanalan orang-orang sekitar kita. Meski orang itu Diandraku, adalah dirimu adanya.

Karena itu hari ini aku melepaskanmu. Memberi jarak pada pelukan dan rasa rindu. Kebersamaan ini melukai ingatanku. Ia mendekatkanku pada apa yang berharga hanya ketika itu tentang dirimu. Sedang aku ingin udara yang kuhirup setiap kalinya adalah tualang baru. Aku ingin peristiwa yang kudapati adalah kemurnian gambar di mataku. Aku ingin diriku utuh dengan sakit, luka, sunyi, sia-sia, serta segenap hal yang mengelak dari keinginanmu. Aku ingin sesuatu yang itu justru tak jua kudapati ketika bersamamu.

Sebab cinta ini perlahan menjadi surga yang melenakan. Sedang aku butuh rasa sakit untuk mengingatkan. Bagiku, hanya ia yang paling sering luka dan sendiri, kan paling mengerti makna dari cinta dan sunyi. Aku pergi Diandraku. Menjemput ingatan dan hal-hal remeh yang terlanjur berceceran. Menajamkan jarak dan segala hal yang kau tolak dalam kewarasan. Aku pergi Diandraku. Hingga hari di mana jarak tidak lagi memberiku kebebasan. Dan seperti cinta, ia hanyalah satu dari segala yang lumrah dalam kenyataan.

Manisi, Desember 2011

Advertisements