Sudah lama rasanya aku tidak menulis. Tidak ada yang bisa kuungkapkan selain kenyataan bahwa waktuku akhir-akhir ini seperti hilang dalam altar kecemasan akan persoalan yang sama. Hidupku tak kunjung beranjak dari garis yang seharusnya bisa kutelikung arahnya. Di sela itu pula, aku lupa bagaimana mengolah aksara menjadi penanda tentang warna hidup dan kisah kita. Apa kabarmu Diandraku? Masihkah dirimu di tempat itu, duduk menunggu November dan termangu?

Barangkali setiap kita selalu menemui hitungan usia baru dengan ingatan yang terkikis. Masa lalu pada akhirnya hanya berharga sebagai tanda yang mengingatkan akan kesunyian hari ini. Karena itu aku tak mengerti bagaimana mengukur kenangan diri, pun untuk semata kilah di tengah ketidakmampuanku menghadapi apa yang akan terjadi. Tapi mungkin ini pula yang membuatku terus berharap semoga kau baik-baik saja. Dan tidak ada kenyataan ketiga yang melukai doa.

Apa kabarmu Diandraku? Masihkah ingatanmu menyisakan ruang untuk diriku? Untuk setiap detil peristiwa di senja November itu. Saat lembayung luruh dan hati bergemuruh. Saat aku terdiam dalam ribuan detik mencari kekuatan untuk menahan basah di pelupukku. Sementara kau tersenyum menggenggam jariku dan mengangkatnya seraya menunjuk ke angkasa. Di udara senja yang tak bersuara itu kau menuntunku menuliskan cinta. Dan kau bilang, biarkan angin yang merawat aksaranya. Menjaganya dari setiap keruh hari dan alpa diri. Hingga kita tiba pada senja yang sama, dan membaca lagi apa yang kita tuliskan di sana.

Hanya saja aku tak pernah menemukan senja itu lagi. Dan setiap November adalah sunyi dan retak kenangan yang tak mampu kuutuhkan. Aku hanya bisa memandang udara di hadapan dan membayangkan aksara yang dulu kembali memenuhi rasaku. Lalu, jika sempat, kutuliskan kembali di lembaran yang aku tahu tak akan bertepi di dirimu. Tapi ia kutuliskan, Diandraku, agar kau mengerti bahwa di November ini ada harapanku, ingatanku, dan segenap doa yang terulur santun mencari hatimu.

Manisi, November 2011

Kenz.

Advertisements