Pagi, Diandraku. Bagaimana tidurmu semalam? Apa kabarmu hari ini? Adakah mimpi baik yang kau temui? Apa yang kau sematkan di hatimu pagi ini?

Sedikit sekali waktu akhir-akhir ini untuk bertanya hal-hal seperti itu. Entahlah, mungkin karena aku terbiasa menghabiskan kata dan pikiran untuk hal-hal dan peristiwa yang tampak besar. Lalu terlupa pada apa yang terlihat oleh diri dalam nanar. Mungkin juga karena ingatan jarang berpihak pada sesuatu yang selesai dengan sendirinya. Sesuatu yang tidak memerlukan segenap daya, sesuatu yang tidak membutuhkan doa. Hingga ia pun tak sering kita sapa.

Apa yang salah dari ingatan? bagaimana mengukur kenangan? Ingin sungguh aku mendengar ada yang berbicara tentang itu semua, Diandraku. Ingatan barangkali membuatku harus menulis hari ini tentangmu, lalu besok ia menghadirkan fragmen lain yang membuatku alpa akan dirimu. Salahkah itu Diandraku? Aku tak pernah mengerti. Sejauh kupikirkan, ingatan hanya menoleh pada berat-ringan kenangan dan tidak peduli akan hal-hal yang tak memiliki ukuran. Dan bagaimana mengukur kenangan dari yang terlontar begitu saja dalam sapaan?

Dulu aku meyakini bahwa kenangan adalah tentang apa yang telah selesai dan apa yang belum sempurna terjadi. Tapi ternyata tidak begitu akhir-akhir ini. Kenangan selalu menjauh dari definisi. Ia datang ketika pikiran mencampakkannya, dan berlalu saat pikiran menginginkannya. Kenangan buruk serupa hantu saat mengingatnya, dan yang baik adalah kita yang menjadi hantu baginya.

Barangkali, apa yang bermakna dari kenangan adalah ia yang membuat kita berbeda dengan dewa. Kenangan bisa membuat kita tertawa di suatu masa, dan membuat kita tersedu di lain waktu. Setiap titik detik pada akhirnya begitu berharga, jika saja kita ingat bahwa ia tak akan kita temui untuk kedua kalinya. Dengan kenangan, maka aku dan kau masih manusia. Kita bukan dewa dengan waktu dan segenap peristiwa yang menyatu. Kita hadir dalam kejadian dan ingatan yang terpilah lagi tak berurutan. Apa yang hitam sedetik kemudian bisa bertambah kelam, dan berubah terang untuk kemudian kita lupakan.

Sebab itu, Diandraku.. Aku tak ingin membahasnya terlalu lama. Aku takut ia terungkap begitu dalam, lalu untuk waktu yang lama ia kan terpendam. Pagi ini, di antara kilas kenangan yang berlarian satu-satu, aku hanya ingin bertanya; Adakah dirimu yakin akan setia, menjadi ingatan yang menemaniku hingga akhir usia?

Manisi, Juni 2011

Kenz

Advertisements