Aku menanti hari untukku sanggup melukis sketsa yang kau beri.. Lanskap senja penuh cinta, surya separuh bersinar manja, dan sebatang cemara tua dengan kau dan aku di teduhnya menyilangkan rasa..

——–

Apa kabarmu Diandraku? Kutulis catatan ini dengan restu sebatang rindu. Dalam delik hari yang semakin sunyi, pekik penat yang mengurung diri, dan pelik nasib yang tak kunjung letih mengeja aksara untung dan rugi. Lalu, tahukah kamu Diandraku, selalu ada yang bergema jauh di relungku, bahwa sudah waktunya aku berhenti di dirimu. Sebab perjalanan ini tak lagi sebanding dengan usia dan dayaku. Aku tak lagi memiliki hasrat untuk melangkah karena adamu sudah cukup buat alasanku menutup kisah.

Telah banyak hari untukku menyambangi apa yang berkembang dalam ruang. Semuanya sudah kusaksikan kecuali mungkin separuh doa yang belum terwujudkan. Seperti impian kita menatap lanskap Madrid penghujung malam, dengan sebaris sajak tentang kau dan aku menghabiskan segala dendam. Lalu, di sela itu, kan kuucapkan sekali saja bahwa aku menyayangimu. Dan hanya itulah lirih sajak yang bisa kutuliskan untukmu, Diandraku.

Apa kabarmu Diandraku? Kutulis catatan ini dengan segumpal pertanyaan dan rasa kelu. Masihkah hatimu seperti pertama kita bertemu. Kau yang mengatakan bahwa parasku sedikit janggal, lalu kau tambah dengan simpul senyum yang membuatku tersengal. Masihkah dirimu seperti dahulu. Kau yang membelai kedua bahuku sambil mengeluh tentang diriku yang tak kunjung patuh menjaga tubuh. Aku rindu kamu, Diandraku..

Telah banyak hari untukku memenggal apa yang menggumpal dalam sesal. Segalanya sudah kurelakan kecuali sedikit kepribadian lain dari diri yang mungkin belum kau pahami. Aku ingin bersamamu menghabiskan usia dalam doa, menerjemahkan satu-satu apa yang kita dapati dari luka sebagai isyarat cinta. Lalu, jika sempat hari terisi, kita kan pergi mengunjungi 6 benua yang saat ini hanya kita bayangkan dalam kata. Dan itulah lanskap doa yang bisa kupintakan untukmu, Diandraku.

Aku menanti hari untukku kembali menghirup udara yang kau beri. Di antara semilir dingin yang berhembus di ruas punggungku saat kau dekap diri, sejuk sapa yang kau bisikkan di sela telinga, dan hangatnya rasa yang perlahan menjalar dalam pejam mata.

Apa kabarmu Diandraku..?

Manisi, 2011

_____
R. Ark.

Advertisements