Di manakah tersisa ruang untuk kita berbagi linang dan ilalang. Seperti gubuk yang dulu kita huni, dengan dinding dan atap yang kini tak lagi berupa jerami. Meski terkadang aku letih tengadahkan wajah, akrabkan tatap, berharap ada untaian doa untuk silap yang tak semata ucap.

Segala yang parau biarkan lelap dalam igau. Segala yang keruh biarkan lekang pada keluh. Di balik itu, aku hanya mengajakmu berdoa, agar mentari masih setia menyulam terang, merobek kelam.. mengubur malam-malam yang kita habiskan dengan bimbang. Dan bila sempat, membasuh separuh kisruh untuk zaman, jarak, dan cinta yang meranggas oleh hidup yang ganas..

Aku tidak ingin kau cuma terpaku menatapku. Aku ingin kau membungkus setiap detak jantungku. Menyimpannya, hingga datang hari di mana hidup bukan sekedar gumam, dan kita bisa kembali berbagi ruang..

Agustus, 2006*

*catatan lama yang lupa diarsipkan..*

Advertisements