Aku kembali Diandraku. Setelah sekian lama kuhabiskan malam-malamku dengan berbungkus kopi dan pikiran tak menentu. Masih hening yang sama, cemas yang sama, dan seraut rindu yang tak kunjung berkerut oleh sang waktu. Ternyata dunia ini sakit, dan ia bertambah koma ketika semuanya justru berpaling pada apa yang membuatnya luka. Itu membuatku miris. Aku miris ketika liris puisi tak lagi memberi arti. Aku miris ketika kata berubah makna namun semakin jauh dari asal peristiwa. Karena itu aku kembali. Pun saat aku tak jua menjadi kaya dan bermutu, seperti sempat terbersit dari niatku saat meninggalkanmu.

Ada banyak yang harus kukabarkan kepadamu, Diandraku. Dari para politikus yang semakin gila, seniman yang terjerat kepentingan dan kuasa, hingga para penulis yang sibuk memenuhi buku dan blog mereka dengan iklan, namun miskin akan gagasan. Mereka semua adalah sampah. Mereka takkan pernah mengerti apa yang bisa menguak cemas dalam diri. Mereka takkan pernah memahami apa tersembunyi di balik sunyi. Padahal, seperti kita tahu, sunyi adalah satu-satunya tempat kita kelak kembali.

Aku kembali Diandraku. Setelah beribu depa dari langkah tak kunjung membawaku tiba pada hari yang lebih cerah. Apa yang bisa kuperbuat, ketika semua yang kutemui teramat cepat mengerjap sedang aku belum jua menangkap isyarat. Dan aku miris Diandraku. Aku miris melihat polahku sendiri yang semakin akrab dengan angan dan mengerdilkan sejarah. Aku merasa hidupku terhimpit keriuhan yang tak bisa kudiamkan. Aku merasa lebih kotor dari sampah yang kuludahi sepanjang langkah. Karena itu aku kembali. Pun saat tak bisa kutuliskan lagi prosa sendu seperti dulu kau mengenaliku.

Aku kembali Diandraku…

Bumi Manisi,  Mei 2011

Advertisements