Ia terpekur di malam itu. Di tepian jendela kamar yang sempit. Dingin yang melilit. Ditatapnya angka jam pada dinding. Sebentar lg permulaan hari. Ia tidak mengerti, apalah arti bertambahnya usia untuk ribuan hari dan peristiwa yang sudah terjadi. Ya, sudah terjadi. Tapi manusia, barangkali, selalu membutuhkan rumusan yang mengingatkan tentang luka yang lupa diobati. Tentang kenangan, tentang rasa iri, tentang patah hati, tentang dunia yang semakin sunyi. Atau mungkin juga tentang keasingan di tengah pikuknya negeri ini. Ia tidak mengerti. Ia merasa dirinya hanya harus bersulang untuk angka baru di hamparan usia yang beberapa menit lagi kan menjelang. Ia harus bersulang meski gagap nalarnya menerka arah datang.

Kabut mulai turun di halaman rumah. Lamat dan perlahan, seperti membentuk kaligrafi perjalanan pagi. Bibirnya masih terkatup rapat, meski seribu kata ingin ia kisahkan. Memekik diam tertelan ruang. Siapakah diri? Apakah hidup? Ia bertanya. Tapi ia tak pernah mengerti. Ia hanya tahu bahwa hidup hanyalah persoalan berbagi duka dan menawar benci. Pun ketika usia bertambah tua. Yang ia tahu, hidup adalah menekuni gerak waktu hingga sampai pada angka tertentu. Seperti di malam itu. Di usia yang sebentar lagi 29 itu.

Manisi, 08 April 2011

Kenz

Advertisements